_Surat Untuk Ayah_
Oleh :Nieda Harmain
Ayah.
Semenjak kepergianmu aku tidak pernah merasa pantas
untuk mendapat kasih sayang. Kupikir sudahlah,
aku hanya jiwa dengan kekosongan
separuh haluannya yg separuhnya lagi telah menguap bersama dengan kepergianmu.
Aku tahu ayah, merelakan setiap masa-masa kehilanganmu adalah keharusan bagiku.
Tapi kau tak pernah tahu beratnya hari-hari yg harus kujalani untuk memulai
merelakanmu ayah...
Kau tak pernah tahu.
Ayah, di sini tak sehangat pelukanmu. Di sini
dingin. Hatiku pun harus menahan perih oleh dinginnya musim di sini.
Iya. Aku memang tak pernah merasa pantas untuk memperoleh yg lebih dari
ini. Kau harusnya tahu ayah, harusnya kau ada di sini. Memberiku
semangat.
Menghangatkan segala dingin yg mengepungku.
Ayah,
aku tak pernah membuat
pilihan tentang takdir bukan? Aku hanya menjalani hari sebagaimana janjiku,
bahwa aku akan bertahan dengan sisa energi yg Tuhan titipkan. Kadang aku ingin
merengek, tentang takdir. Tentang rasa iri, tentang rasa angkuh. Ayah. Kering
sudah air mata tolol ini. Menangisi masa terdahulu, nyatanya tak membuatku
lebih baik. Ayah, aku merindukanmu. Aku merinduimu di tengah krisis kasih yg
kualami. Hanya Tuhan, tempatku bernaung. Berteduh di tengah hujan lara yg
menggumul di setiap kesunyian hati. Tapi rindu ini. Semakin menyesakiku ayah. Sakit
sekali. Ayah. Mimpiku adalah kau.
Tidurpun tak mampu membuatku melepas sakit ini.
Adik,
di bumi kita dulu. :)