Jumat, 01 Februari 2013

_My Short Story_

 SEPASANG RASA
By : Nieda Haromain



Ini hanya tentang sebuah pengakuan yang tak kunjung reda. Malam yang sunyi hanya sebuah kiasan tanpa batas, tempat di mana aku tak pernah mempercayai sebuah kata. Malam, selalu mengatakan padaku bahwa aku akan baik-baik saja hingga pagi menjelang. Namun anehnya dia benar, aku selalu baik, lebih dari baik-baik saja setiap kali matahari memeluk tubuh bumi dari jarak yang begitu jauh.
Angin, laut, aku tak pernah menghitung berapa kali sudah aku mencumbu mereka, aku melakukannya selalu setiap saat, namun aku tak pernah mendapat jawaban apa pun. Semua pertanyaan ini masih sama, masih ada dan mungkin akan selalu begitu.

"Jangan pernah berhenti. Jangan berhenti demi aku, kau mengerti?"

Kata-katamu, yang terakhir sebelum pesawat itu lepas landas meninggalkan aku yang hampir hancur. Aku selalu berharap pesawat yang membawamu menuju samudera nan jauh itu meledak tepat di depan mataku, lalu aku akan benar-benar kehilanganmu. kemudian aku akan mulai menangis, membuat seolah-olah aku pun akan mati esok hari, lalu ada orang lain yang datang di hidupku dan mengatakan padaku untuk tetap hidup demi dia. Dengan begitu aku hanya akan kehilanganmu secara nyata, selamanya.

Namun yang seperti ini, belum mampu kuatasi. Kau terus berputar-putar di fikiranku tiap detik. Aku yang begitu bodoh membuat ini semua amat sulit untuk dilalui. Bagaimana mungkin aku mengatakan aku akan menerima tangan orang lain jika tanganmu masih kurasakan hangat melingkari bahuku, meski nyatanya kau dan hangat tanganmu tak akan pernah lagi ada untukku.

"Hey, kau dengar! Hari ini adalah 7 hari sebelum aku menikahi laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Kau dengar, dia lebih baik! Seribu kali lebih baik!!...

tak mampu kutahan tangis yang menyesaki lingkar mataku. Dan tetes demi tetes air mata itu pun mulus meluncur di pipiku. Aku masih menatap wajahnya nanar, dalam bingkai yang indah itu. Gambar yang kuambil 5 tahun lalu bersamanya. Bahkan senyum yang ada di sana masih saja membuatku berdesir saat menatap dan meikmatinya.

"Dia lebih baik darimu! Iya, siapa pun tahu itu! Tapi kenapa aku belum mampu membuatnya memasuki hatiku...kenapa hanya wajahmu yang selalu menyesaki hariku! Apa yang kau lakukan padaku! Kenapa takdir begitu keterlaluan menyiksaku!!"

Kurasa ini sudah agak keterlaluan karena ibuku sudah mulai mengetuk pintu kamarku, mengingatkanku untuk tak lagi menangisimu. Aku akan menikah, dengan lelaki yang baik, pilihan Ibuku tentu saja. 5 tahun sudah, dan aku masih sama bekunya dengan terakhir saat kau kecup keningku di tempat itu. Kau, sudah pernah mengatakannya, bahwa kau akan kembali, namun aku hanyalah aku dan kau memang tak akan ada dalam kehidupan dimana aku diciptakan. Kau hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi sesukamu.

"Maaf."ucapku formal.

Lelaki itu tersenyum begitu tulus, membuatku memicingkan mata. Aku begitu penasaran, sebenarnya apa yang ia rasakan. Apa dia baik-baik saja, apa dia waras dengan membuat pilihan akan menikahi gadis sepertiku, kosong, tak ada lagi hati yang tersisa.

"Aku tidak melakukan apa pun yang membuatmu harus mengembalikan hal tersebut padaku. Aku hanya...
 Sesaat ia melepasakan pandangannya dariku dan menatap luas langit yang begitu indah pagi itu, 3 hari, tepat sebelum aku akan resmi menjadi istrinya.
''aku hanya mencintaimu. Cinta bukan tentang balas budi yang bisa kau kembalikan sehingga kau tak lagi mempunyai hutang padaku. Aku mencintaimu Nai, bukan memberikanmu hutang apa pun. Dou you understand?" Ucapnya panjang lebar.

"Karena itulah aku meminta maaf."ucapku datar. Tak mampu menatap matanya.

Namun ia hanya tersenyum, seperti biasa saat aku tak lagi mampu mengeluarkan kata lain selain permintaan maaf.

"menikahlah denganku, Naila.."ia kembali angkat bicara, kali ini ia membuat tanganku berada dalam genggamannya.
"bukankah aku akan menikah denganmu 3 hari lagi?"tanyaku, seraya menjawab pernyataannya.
"iya, sepertinya aku memang akan menikahimu."ia kembali tersenyum, senyum yang sebenarnya lebih terdengar menyakitkan.


Salah siapa semua ini, jika hati memang tak memiliki kapasitas untuk mencintai lebih dari satu orang saja. Aku sudah pernah mencintai seseorang, amat dalam dan tak memiliki ruang untuk lari dari cinta yang menyakitkan itu. Lalu aku tak lagi mampu memberikan hatiku untuk orang lain.

Dan Tuhan punya rencana, baiklah akan kulakukan apa yang menjadi bagianku sebagai takdir. Hari di mana aku menjadi memperlai wanita laki-laki itu, hari itu aku hanyalah seorang pengantin, hari itu hanya akan terjadi kepemilikan diriku atasnya. Laki-laki yang aku tahu, ia begitu baik hingga aku tak tahu mengapa aku tak mampu membuka hatiku untuknya.
"Tersenyumlah, sehingga seolah aku benar-benar menikahimu..."Ucapnya dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
Demi menatap mata hangatnya, aku menarik sudut-sudut bibirku hingga menyunggingkan senyum. 
Hey kau! apa kau tahu, aku menikahinya, laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Aku bisa berbuat sepertimu, menikah dengan orang lain seolah tak pernah ada apa pun di antara kita. Hari ini kita satu sama, kau dan wanitamu, lalu aku bersama suamiku.
Lalu, apakah ini jodoh? Inikah jodoh? Kau dan dia? Aku dan lelaki ini? Beginikah seharusnya?


*to be continued*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar