Jumat, 06 Desember 2013

Jodoh, :)


Berjalan menikmati sapaan angin tiap detiknya, rasanya aku tak pernah merasa sendiri. Karena angin selalu ada dan membuatku nyaman, angin selalu menemani saat aku tak punya ruang lain untuk berbagi sentuhan kerinduan. Aku, terlalu takut sendiri, terlalu tolol untuk memulai lagi, terlalu jauh untuk kembali, dan memang seharusnya aku tak lagi kembali bukan?:)

Beberapa tahun berlalu, sejak aku mulai mencintai seseorang, mengharapkan dialah yang paling pas tangannya untuk kugenggam, paling nyaman bahunya untuk berbagi sandaran, paling mengerti, paling memahamiku, paling membuatku merasa bahagia saat duduk bersamanya, saling menatap.

Namun bukankah memang begini seharusnya hidup, berwarna, berganti-ganti, berlalu dan berubah. Iya, beginilah seharusnya kujalani hidupku, tertawa tanpa punya hal lain untuk dirisaukan, tersenyum saat tahu langit masih seindah biasa, hujan bersama rinainya masih semesra biasanya, dan kau pun di sana harus melakukan apa yang kulakukan di sini, okey?:)

Cinta,
bukan hal yang bisa kau perhitungkan,
kau paksakan,
pun kau rengekkan.
Dia egois, iya, sangat egois.
Tapi dia tulus, murni,
Tak ada yang salah dengan cinta, ia selalu indah pada awal dan tabiat aslinya.
Namun orang-orang kotor segera membuatnya menjadi kata-kata sampah yang tak bernilai.
Padahal cinta adalah kepunyaan hati, yang selalu ramai diperbincangkan dalam berbagai dekade, beragam zaman.

Untuk menemukan cintamu, cukup pejamkan matamu, katakan pada Langit untuk membisikkan rindumu pada dia, yang adalah belahan jiwamu.
Untuk kalian yang belum menemukannya, hei, coba pikirkan, bukankah ini seru? ia yang nanti akan melalui masa seumur hidupnya bersamamu, ia yang akan hidup dan mati bersamamu, bercanda denganmu, bertengkar denganmu, sekarang kalian berada di dunia yang sama, kalian memiliki atap yang sama, langit yang biru, kalian mungkin pernah dipertemukan oleh takdir. Tapi, Tuhan punya surprise yang luar biasa untuk menahan penyatuan kalian, bukankah itu luar biasa?

Jangan khawatir kawan,
Jangan lupa, jodoh adalah hadiah jangka panjang, yang super spesial.
Katakan pada jodohmu untuk juga menunggu dan memperbaiki dirinya sebagaimana kau melakukan itu semua untuknya.

Aku selalu bertanya,
kenapa pula aku harus menikah pada usia 21, 22, atau 23. Katanya, wanita tak boleh menikah di usia yang terlalu tua.
Hei, bukankah itu sangat egois?
20 Tahun Ibu dan Ayah merawat, membiayai, membahagiakan aku, membuatku menjadi manusia yang lebih humanis dengan pendidikan. Tapi lihat apa yang bakal aku perbuat, 20 tahun yang panjang, setelahnya aku harus meninggalkan Ibu sendiri, dengan judul mengabdi kepada suami. Bukankah itu sangat tak sopan? Bahkan ada yang belum menikah saja sudah sibuk dengan urusan cinta-tak mutu nya dan mengacuhkan orang tuanya. Tidak, jangan pernah melakukan hal itu Nid, paling tidak beritahu pada dunia bahwa kau akan membahagiakan Ibu, membuat hari tuanya bermakna dan temani ia selalu, selamanya.

Jadi, jodoh itu bukan hal yang perlu kau risaukan
Ini bukan nasihat, hanya perlu kita tahu saja, jangan terlalu ngotot untuk mencintai orang lain. Cinta itu lembut, tak perlu tangis sedih dan terluka jika kita tahu ia begitu membahagiakan, hanya perlu tangis bahagia dan tawa lepas saat bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Semalam Ustdazku berkata, "Apa kalian tidak malu, selalu berdo'a tentang barang dunia? JODOH? Hei, dengarkan, jodoh itu adalah rizki yang sudah Allah siapkan, seseorang yang pas dengan kalian, sudah disiapkan dan kalian masih saja meminta. Malu tidak? Berdo'a untuk akhirat saja tak pernah. Dunia saja yang kalian pikirkan!"
Lalu kurasakan hatiku berdarah, terluka oleh kenyataan bahwa aku melakukan hal yang dikatakan oleh ustadzku.:(


Lalu aku,
Tak bermaksud menutup hati ini, hanya inilah duniaku, dunia anak 20 tahun yang masih merasa 15 atau 16 tahun. :P
Aku senang pernah mencintai dan amat dicintai begitu tulus oleh seseorang. Meski ia bukan suamiku, meski nyatanya kami harus dipisahkan oleh takdir, nyatanya saat mengingatnya aku hanya punya senyum dan bahagia. Semoga, kan kutemui kau yang lain nanti, saat waktunya Tuhan menunjukkan suprise besarNya padaku.

Salam Cinta,
Jatuh cintalah, 
Jatuh cintalah secara beradab, secara rasional.



Nieda Haromain.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Tuhan, bisikkan...

Tuhan,,
tolong beritahu aku, bahwa ketulusan itu masih nyata.
Tuhan,
katakan padaku bahwa setiap kejujuran itu masih nyata.
Aku,
tertatih dan jatuh berkali-kali, namun masih harus berdiri.
Ditinggalkan berdarah-darah berulang kali, tapi masih dipaksa bertahan dan menghapus sendiri semua kesakitan ini.
tidak Tuhan, aku tidak sedang merajuk, apalagi mencerca semua ini.
hanya saja, kumohon..
hanya sebuah bisikan..
bisikkan saja melalui apa pun itu,
bahwa masih wujud apa yang kusebut 'ketulusan', masih ada apa yang kuanggap 'kebersamaan'.
boehkah aku menangisinya? sebuah kehilangan, kebohongan, penghianatan, bolehkan?
atau harus kusimpan airmata ini untuk hal yang lebih berharga?
Tuhan,
terimakasih...
telah membuatku kuat
terimakasih,
telah memberikanku waktu untuk lebih tahu dan memahaminya.
:)

Sabtu, 04 Mei 2013

My Memory

_Bapak K.H. Ahmad Warsun Munawwir_

Fajar itu, kamis itu, 18 April 2013.
Gerimis sudah menemani fajar menjemput sang mentari.
Kamarku masih lengang, ada mbak luluk yang sedang makan sahur dengan nasi kucingnya. Hingga aku turut menyertainya sekitar 15 menit sebelum adzan shubuh berkumandang.
Suasana masih amat dingin ketika kuambil air wudlu dan anak-anak mulai bangun dan menuju musholla untuk jama'ah shubuh.
Setelah shalat, kusempatkan tidur sejenak karena semalaman latihan khataman membuat rasa kantuk merajai(alesan,hehe).
Sekitar pukul setengah 6, kuakhiri tidur sejenak dan beralih menyetrika beberapa baju.
Tiba-tiba ada 'koar-koar' dari pengurus di lantai 1(nb:kamarku ada di lantai 2), teriakannya singkat, "mbak-mbak...ke musbar(musholla barat) sekarang..baca yasin buat bapak(cara kami memanggil abah pondok)!!"
Di hati langsung 'jlep'. Dalam hati langsung bertanya, 'kenapa yasin?'
Kalau ada musibah sakit atau yang lain ndalem pondok sering mengumpulkan santriwati:santriwati untuk membaca shalawat thibbil qulub, muqoddaman, dan lain-lain.
Tapi pagi itu, kenapa yasin, kenapa bapak?
Langsung kutinggal setrikaanku yang baru separuh jalan, buru-buru menyomot jas pondok dan memakai jilbab secepat kilat. Saling diam, tapi kami semua punya perasaan tak enak dengan suasana pagi itu.
Di musholla barat suasana sudah mengharu biru. Santriwati berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran beranggotakan beberapa anak dan membaca surat yasin. Aku Mbak Hanik dan Mbak Luluk mulai membaca surat yasin dengan dihadaroh sebelumnya. Yasin pertama terlewadkan dengan mata kami yang celingak-celinguk mencari kejelasan 'ada apa ini?', 'bagaimana dengan bapak?', 'kenapa seseorang di barisan depan itu menangis dalam bacaan yasinnya?'.
Saling bertanya pun tak ada guna. Kami tak berucap selain bacaan Yasin yang masih berusaha kami lantunkan dalam kebingungan.
Hingga seseorang di depan musholla yang adalah mbak nopel, mengintruksi kami untuk membaca shalawat thibbil qulub untuk kesembuham bapak.
Mulailah koor thibbil qulub menggema serempak di musholla barat. Mengalun dan berirama. Tapi ternyata shalawat koor itu hanya berjalan beberapa menit hingga mbak nopel menangis histeris dan menghentikan shalawat thibbil qulubnya membuat kami bingung tanpa kejelasan.
"ada apa mbak?" tanyaku pada mbak hanik.
mbak Han hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.
Ahh...ada apa ini?? Mbak nopel kok berhenti mimpin thibbil qulubnya, gimana sih? Kita jadi bingung nggak ada yang mimpin!
Tanpa kejelasan kulanjudkan sendiri shalawat thibbil qulubku dengan air mata yang tanpa terasa sudah mengucur deras menuruni pipiku. All is well, all is well, semua akan baik-baik saja, ucapku dalam hati dan kuuatkan bibirku yang semakin bergetar menahan suara tangis.
Mbak Indah, ketua rayonku yang memperjelas semuanya. Ia berjalan dengan langkah tergesa entah darimana menuju bagian depan musbar, meminta mikrofon dan mulai menata kata, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un.."
Pecah sudah tangisku, tangis mbak hanik, tangis mbak luluk, tangis kami semua. Ya Tuhan..sesak sekali dada ini mendengar kalimat itu.
Koor diubah menjadi tahlil, tangisan masih dominan dan menyulubungi atmosfer musbar. Kami semua, punya slide-slide di kepala yang secara reflek me'replay' kenangan kami tentang bapak.
Dua tahun, baru dua tahun aku menempati pondok ini. Ramadhan 2 tahun silam aku bertemu sosok alm.bapak, matur untuk agar bapak sudi menerimaku sebagai santriwati beliau. Beliau dengan wajah sepuhnya, menerimaku dan meridloiku untuk menjadi murid beliau. Bapak, adalah sosok humoris yang tiap mucal kitabnya mbah Yai Ali Maksum(Hujjah Ahlussunnah wal jama'ah) ngendiko "aku iki ngene-ngene iseh 'trendi' loh cah..(lalu beliau tersenyun renyah)".
Bapak adalah sosok perhatian yang saat kami meminta ijin beliau untuk pulang ke rumah, beliau akan dengan ringannya bertanya sebagai bentuk raaa sayang beliau kepada kami.
Bapak adalah sosok luar biasa yang kesehariannya masih sering berkeliling melihat-lihat area pondok. Mengamati santriwati-santriwatinya. Menanyakan ini itu yang diperlukan untuk kemaslahatan pondok.
Bapak dengan hazanah keilmuan beliau berupa Kamus Almunawwir yang membahana namun penampilan beliau sungguh bersahaja, tak berlebihan mewahnya. Sungguh rendah hati dan tak ada yang istimewa, beliau amat sederhana untuk ukuran kiai besar dan aktifis politik.
Bapak, sosok yang kami kagumi, kami sayangi, kami tunggu mauidlohnya, kami puja kehadirannya,. Bapak, sosok ayah kedua kami di sini, di bumi perantauan, di tengah lautan pencarian ilmu.

Seharian itu pondok rame oleh pelayat yang datang silih berganti. Ulama-ulama besar negeri ini banyak yang datang memberikan penghormatan terakhir untuk beliau. Lantunan ayat suci menggema dengan merdu, dilantunkan bilhifdzi oleh para santri. Sedang kami santriwati berkumpul di musholla untuk membaca ar ra'du dan surat yasin.
Pagi hingga sore langit masih saja sendu, merintikkan gerimis tanda bela sungkawanya atas kepulangan Kiai kami ke Rahmatullah.
Sekitar pukul 4 sore keranda yang membawa jenazah bapak digotong banyak santri dan masyarakat ke pemakaman dongkelan. Bapak disareake bersebelahan dengan para sesepuh Al Munawwir yang lain.

Selamat jalan Syaikhona,
Menatap pondok semegah ini, santriwati-santriwati yang membeludak dengan penuh kecintaannya kepada beliau.
Menatap kamus beliau,
membuat kecintaan kami kepada beliau semakin membumbung.
Kau meninggalkan kami dengan pencapaian luar biasa, Bapak.
Kau pergi dengan segudang jerih perjuangan atas nama agama duhai guru.
Engkau beriatirahat setelah lelah yang panjang dengan seluruh perjuangan yang tak sedikit tak pula sebentar.
Duhai guru,
selamat beristirahat.
selamat menikmati jamuan indah di alam yang lebih kekal.
semoga estafet keilmuan ini terus berpendar dan tak luruh oleh waktu.
Kami sayang bapak.


PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta.
Jumat, 19 April 2013.

Minggu, 31 Maret 2013

Puisi

 Langit Malamku
By : Nieda Haromain


Derai air mataku malam ini, cukupkah untuk menjagamu?
Masihkah hadir  sebuah kebersamaan yang kusuka dulu
Aku tak tahu mengapa harus kujalani bersamamu, hanya sebuah kenyamanan lah jawaban langit.
Dan dia serta mereka menarikku paksa dan melenyapkanmu kasar
Aku hanya mencoba berjalan dalam kesendirian
Hancur tak mengapa
berkeping pun aku pernah melaluinya,
yang terparah sekali pun pernah kujalani.
Hanya dustaku untuk mengingkarimu lah yang menyesakkan
Hanya sakit yang kubagi bersamamu ini lah yang kusesali
Selamat malam gelap langit
Jangan temani aku,
temani saja rembulan menghabiskan masanya
Aku tak lagi mampu menemui dalam lelap mimpiku,
Aku teramat menginginimu hingga harus melakukan ini semua,
maaf langit malamku
aku tak mampu untuk tak menyayangimu
aku teramat menyedihkan dengan rasa bodoh ini,
tapi ini cukup, 
untuk membuatku yakin bahwa cinta tak selamanya harus menemui hulunya
bahwa cinta hanya sebuah perasaan,
ia hanya rasa yang perlu kutahu indah dan manisnya
sedang duka,
ia bukan cinta
ia hanya cinta yang tak menemu hilirnnya
:)

Jumat, 01 Februari 2013

_My Short Story_

 SEPASANG RASA
By : Nieda Haromain



Ini hanya tentang sebuah pengakuan yang tak kunjung reda. Malam yang sunyi hanya sebuah kiasan tanpa batas, tempat di mana aku tak pernah mempercayai sebuah kata. Malam, selalu mengatakan padaku bahwa aku akan baik-baik saja hingga pagi menjelang. Namun anehnya dia benar, aku selalu baik, lebih dari baik-baik saja setiap kali matahari memeluk tubuh bumi dari jarak yang begitu jauh.
Angin, laut, aku tak pernah menghitung berapa kali sudah aku mencumbu mereka, aku melakukannya selalu setiap saat, namun aku tak pernah mendapat jawaban apa pun. Semua pertanyaan ini masih sama, masih ada dan mungkin akan selalu begitu.

"Jangan pernah berhenti. Jangan berhenti demi aku, kau mengerti?"

Kata-katamu, yang terakhir sebelum pesawat itu lepas landas meninggalkan aku yang hampir hancur. Aku selalu berharap pesawat yang membawamu menuju samudera nan jauh itu meledak tepat di depan mataku, lalu aku akan benar-benar kehilanganmu. kemudian aku akan mulai menangis, membuat seolah-olah aku pun akan mati esok hari, lalu ada orang lain yang datang di hidupku dan mengatakan padaku untuk tetap hidup demi dia. Dengan begitu aku hanya akan kehilanganmu secara nyata, selamanya.

Namun yang seperti ini, belum mampu kuatasi. Kau terus berputar-putar di fikiranku tiap detik. Aku yang begitu bodoh membuat ini semua amat sulit untuk dilalui. Bagaimana mungkin aku mengatakan aku akan menerima tangan orang lain jika tanganmu masih kurasakan hangat melingkari bahuku, meski nyatanya kau dan hangat tanganmu tak akan pernah lagi ada untukku.

"Hey, kau dengar! Hari ini adalah 7 hari sebelum aku menikahi laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Kau dengar, dia lebih baik! Seribu kali lebih baik!!...

tak mampu kutahan tangis yang menyesaki lingkar mataku. Dan tetes demi tetes air mata itu pun mulus meluncur di pipiku. Aku masih menatap wajahnya nanar, dalam bingkai yang indah itu. Gambar yang kuambil 5 tahun lalu bersamanya. Bahkan senyum yang ada di sana masih saja membuatku berdesir saat menatap dan meikmatinya.

"Dia lebih baik darimu! Iya, siapa pun tahu itu! Tapi kenapa aku belum mampu membuatnya memasuki hatiku...kenapa hanya wajahmu yang selalu menyesaki hariku! Apa yang kau lakukan padaku! Kenapa takdir begitu keterlaluan menyiksaku!!"

Kurasa ini sudah agak keterlaluan karena ibuku sudah mulai mengetuk pintu kamarku, mengingatkanku untuk tak lagi menangisimu. Aku akan menikah, dengan lelaki yang baik, pilihan Ibuku tentu saja. 5 tahun sudah, dan aku masih sama bekunya dengan terakhir saat kau kecup keningku di tempat itu. Kau, sudah pernah mengatakannya, bahwa kau akan kembali, namun aku hanyalah aku dan kau memang tak akan ada dalam kehidupan dimana aku diciptakan. Kau hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi sesukamu.

"Maaf."ucapku formal.

Lelaki itu tersenyum begitu tulus, membuatku memicingkan mata. Aku begitu penasaran, sebenarnya apa yang ia rasakan. Apa dia baik-baik saja, apa dia waras dengan membuat pilihan akan menikahi gadis sepertiku, kosong, tak ada lagi hati yang tersisa.

"Aku tidak melakukan apa pun yang membuatmu harus mengembalikan hal tersebut padaku. Aku hanya...
 Sesaat ia melepasakan pandangannya dariku dan menatap luas langit yang begitu indah pagi itu, 3 hari, tepat sebelum aku akan resmi menjadi istrinya.
''aku hanya mencintaimu. Cinta bukan tentang balas budi yang bisa kau kembalikan sehingga kau tak lagi mempunyai hutang padaku. Aku mencintaimu Nai, bukan memberikanmu hutang apa pun. Dou you understand?" Ucapnya panjang lebar.

"Karena itulah aku meminta maaf."ucapku datar. Tak mampu menatap matanya.

Namun ia hanya tersenyum, seperti biasa saat aku tak lagi mampu mengeluarkan kata lain selain permintaan maaf.

"menikahlah denganku, Naila.."ia kembali angkat bicara, kali ini ia membuat tanganku berada dalam genggamannya.
"bukankah aku akan menikah denganmu 3 hari lagi?"tanyaku, seraya menjawab pernyataannya.
"iya, sepertinya aku memang akan menikahimu."ia kembali tersenyum, senyum yang sebenarnya lebih terdengar menyakitkan.


Salah siapa semua ini, jika hati memang tak memiliki kapasitas untuk mencintai lebih dari satu orang saja. Aku sudah pernah mencintai seseorang, amat dalam dan tak memiliki ruang untuk lari dari cinta yang menyakitkan itu. Lalu aku tak lagi mampu memberikan hatiku untuk orang lain.

Dan Tuhan punya rencana, baiklah akan kulakukan apa yang menjadi bagianku sebagai takdir. Hari di mana aku menjadi memperlai wanita laki-laki itu, hari itu aku hanyalah seorang pengantin, hari itu hanya akan terjadi kepemilikan diriku atasnya. Laki-laki yang aku tahu, ia begitu baik hingga aku tak tahu mengapa aku tak mampu membuka hatiku untuknya.
"Tersenyumlah, sehingga seolah aku benar-benar menikahimu..."Ucapnya dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
Demi menatap mata hangatnya, aku menarik sudut-sudut bibirku hingga menyunggingkan senyum. 
Hey kau! apa kau tahu, aku menikahinya, laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Aku bisa berbuat sepertimu, menikah dengan orang lain seolah tak pernah ada apa pun di antara kita. Hari ini kita satu sama, kau dan wanitamu, lalu aku bersama suamiku.
Lalu, apakah ini jodoh? Inikah jodoh? Kau dan dia? Aku dan lelaki ini? Beginikah seharusnya?


*to be continued*