Ini untukmu, yang pernah tinggal di hatiku. untukmu yang pernah menghabiskan petang yang indah di nol KM Jogja bersamaku. aku rindu pada kisah kita.
LANGIT
By: Nieda Haromain
Sudah berapa kali kucoba, mengusirmu dari pikiranku dengan pertahananku yg sangat rapuh.
Sudah berapa ranting kucoba patahkan, saat daunnya terserap oleh cahaya mentarimu.
Entah,
Entah sudah berapa kali kubaca percakapan terakhir kita.
Pesan-pesanmu yang tertata rapi,
kata-katamu yang serupawan hatimu,
yang semua itu, hanya semakin menyakitiku.
Yang semuanya hanya menambah luka baru di rongga dadaku.
Sesak,
rasaku hanya sesal yang menggantung tanpa pernah berlabuh.
Dudaku adalah saat aku membiarkan setiap ingatku menjelajahi duniaku saat kau meracuninya dengan rasa tulusmu.
Bintang,
mawar,
kata-katamu,
semua berbaring pasrah di atas puing-puing luka yang justru tak akan usai.
Duhai langit,
Mengapa aku harus jatuh sedalam ini?
Mengapa aku tak memberi sekat dengan lautan 'rasa' sehingga harus basah olehnya.
Duhai langit,
Bahkan angin pun membisikkan namanya.
'kebaikan'nya...
Ia yang akan 'menepati janji'nya.
Langit, kumohon beri aku jawabmu...
Terlalu pening kutanggung ini semua sendiri.
Mimpi-mimpiku membuatku lemah hingga aku takut terlelap.
Dan tak sampai di situ takdir menjadikanku boneka,
bahkan saat mataku memerah menahan lelap,
aku hanya bisa menangisi kebodohanku.
Bahkan laut lepas yang kupandang kala itu, membuatku marah pada langit.
Mengapa,
Mengapa harus sedalam ini?
Mengapa langit?
Waktu,
hanya itu jawaban langit atas tanyaku yg sesak menyelimuti atmosfer.
Waktu katanya,
Yang akan menjagaku.
Ia akan membantuku.
Yah,
Setidaknya ada satu kata yang bisa menghiburku.
Terimakasih langit.
:')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar