Selasa, 13 November 2012

My Dady


_Surat Untuk Ayah_
Oleh :Nieda Harmain



Ayah.
Semenjak kepergianmu aku tidak pernah merasa pantas untuk mendapat kasih sayang. Kupikir sudahlah, 
aku hanya jiwa dengan kekosongan separuh haluannya yg separuhnya lagi telah menguap bersama dengan kepergianmu. 
Aku tahu ayah, merelakan setiap masa-masa kehilanganmu adalah keharusan bagiku.
Tapi kau tak pernah tahu beratnya hari-hari yg harus kujalani untuk memulai merelakanmu ayah... 
Kau tak pernah tahu. 
Ayah, di sini tak sehangat pelukanmu. Di sini dingin. Hatiku pun harus menahan perih oleh dinginnya musim di sini. Iya. Aku memang tak pernah merasa pantas untuk memperoleh yg lebih dari ini. Kau harusnya tahu ayah, harusnya kau ada di sini. Memberiku semangat. Menghangatkan segala dingin yg mengepungku. 
Ayah, 
aku tak pernah membuat pilihan tentang takdir bukan? Aku hanya menjalani hari sebagaimana janjiku, bahwa aku akan bertahan dengan sisa energi yg Tuhan titipkan. Kadang aku ingin merengek, tentang takdir. Tentang rasa iri, tentang rasa angkuh. Ayah. Kering sudah air mata tolol ini. Menangisi masa terdahulu, nyatanya tak membuatku lebih baik. Ayah, aku merindukanmu. Aku merinduimu di tengah krisis kasih yg kualami. Hanya Tuhan, tempatku bernaung. Berteduh di tengah hujan lara yg menggumul di setiap kesunyian hati. Tapi rindu ini. Semakin menyesakiku ayah. Sakit sekali. Ayah. Mimpiku adalah kau. Tidurpun tak mampu membuatku melepas sakit ini.


Adik,
di bumi kita dulu. :)

3 komentar:

  1. kehilangan ayah berarti kehilangan pintu nasihat
    kehilangan ibu berarti kehilangan pintu kasih sayang

    kehilangan aku bisa menyebabkan galau loch
    boleh donk memberikan koment untuk saya yang newbie agar lebih baik kedepannya di Kloset Galau

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus