Sabtu, 04 Mei 2013

My Memory

_Bapak K.H. Ahmad Warsun Munawwir_

Fajar itu, kamis itu, 18 April 2013.
Gerimis sudah menemani fajar menjemput sang mentari.
Kamarku masih lengang, ada mbak luluk yang sedang makan sahur dengan nasi kucingnya. Hingga aku turut menyertainya sekitar 15 menit sebelum adzan shubuh berkumandang.
Suasana masih amat dingin ketika kuambil air wudlu dan anak-anak mulai bangun dan menuju musholla untuk jama'ah shubuh.
Setelah shalat, kusempatkan tidur sejenak karena semalaman latihan khataman membuat rasa kantuk merajai(alesan,hehe).
Sekitar pukul setengah 6, kuakhiri tidur sejenak dan beralih menyetrika beberapa baju.
Tiba-tiba ada 'koar-koar' dari pengurus di lantai 1(nb:kamarku ada di lantai 2), teriakannya singkat, "mbak-mbak...ke musbar(musholla barat) sekarang..baca yasin buat bapak(cara kami memanggil abah pondok)!!"
Di hati langsung 'jlep'. Dalam hati langsung bertanya, 'kenapa yasin?'
Kalau ada musibah sakit atau yang lain ndalem pondok sering mengumpulkan santriwati:santriwati untuk membaca shalawat thibbil qulub, muqoddaman, dan lain-lain.
Tapi pagi itu, kenapa yasin, kenapa bapak?
Langsung kutinggal setrikaanku yang baru separuh jalan, buru-buru menyomot jas pondok dan memakai jilbab secepat kilat. Saling diam, tapi kami semua punya perasaan tak enak dengan suasana pagi itu.
Di musholla barat suasana sudah mengharu biru. Santriwati berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran beranggotakan beberapa anak dan membaca surat yasin. Aku Mbak Hanik dan Mbak Luluk mulai membaca surat yasin dengan dihadaroh sebelumnya. Yasin pertama terlewadkan dengan mata kami yang celingak-celinguk mencari kejelasan 'ada apa ini?', 'bagaimana dengan bapak?', 'kenapa seseorang di barisan depan itu menangis dalam bacaan yasinnya?'.
Saling bertanya pun tak ada guna. Kami tak berucap selain bacaan Yasin yang masih berusaha kami lantunkan dalam kebingungan.
Hingga seseorang di depan musholla yang adalah mbak nopel, mengintruksi kami untuk membaca shalawat thibbil qulub untuk kesembuham bapak.
Mulailah koor thibbil qulub menggema serempak di musholla barat. Mengalun dan berirama. Tapi ternyata shalawat koor itu hanya berjalan beberapa menit hingga mbak nopel menangis histeris dan menghentikan shalawat thibbil qulubnya membuat kami bingung tanpa kejelasan.
"ada apa mbak?" tanyaku pada mbak hanik.
mbak Han hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.
Ahh...ada apa ini?? Mbak nopel kok berhenti mimpin thibbil qulubnya, gimana sih? Kita jadi bingung nggak ada yang mimpin!
Tanpa kejelasan kulanjudkan sendiri shalawat thibbil qulubku dengan air mata yang tanpa terasa sudah mengucur deras menuruni pipiku. All is well, all is well, semua akan baik-baik saja, ucapku dalam hati dan kuuatkan bibirku yang semakin bergetar menahan suara tangis.
Mbak Indah, ketua rayonku yang memperjelas semuanya. Ia berjalan dengan langkah tergesa entah darimana menuju bagian depan musbar, meminta mikrofon dan mulai menata kata, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un.."
Pecah sudah tangisku, tangis mbak hanik, tangis mbak luluk, tangis kami semua. Ya Tuhan..sesak sekali dada ini mendengar kalimat itu.
Koor diubah menjadi tahlil, tangisan masih dominan dan menyulubungi atmosfer musbar. Kami semua, punya slide-slide di kepala yang secara reflek me'replay' kenangan kami tentang bapak.
Dua tahun, baru dua tahun aku menempati pondok ini. Ramadhan 2 tahun silam aku bertemu sosok alm.bapak, matur untuk agar bapak sudi menerimaku sebagai santriwati beliau. Beliau dengan wajah sepuhnya, menerimaku dan meridloiku untuk menjadi murid beliau. Bapak, adalah sosok humoris yang tiap mucal kitabnya mbah Yai Ali Maksum(Hujjah Ahlussunnah wal jama'ah) ngendiko "aku iki ngene-ngene iseh 'trendi' loh cah..(lalu beliau tersenyun renyah)".
Bapak adalah sosok perhatian yang saat kami meminta ijin beliau untuk pulang ke rumah, beliau akan dengan ringannya bertanya sebagai bentuk raaa sayang beliau kepada kami.
Bapak adalah sosok luar biasa yang kesehariannya masih sering berkeliling melihat-lihat area pondok. Mengamati santriwati-santriwatinya. Menanyakan ini itu yang diperlukan untuk kemaslahatan pondok.
Bapak dengan hazanah keilmuan beliau berupa Kamus Almunawwir yang membahana namun penampilan beliau sungguh bersahaja, tak berlebihan mewahnya. Sungguh rendah hati dan tak ada yang istimewa, beliau amat sederhana untuk ukuran kiai besar dan aktifis politik.
Bapak, sosok yang kami kagumi, kami sayangi, kami tunggu mauidlohnya, kami puja kehadirannya,. Bapak, sosok ayah kedua kami di sini, di bumi perantauan, di tengah lautan pencarian ilmu.

Seharian itu pondok rame oleh pelayat yang datang silih berganti. Ulama-ulama besar negeri ini banyak yang datang memberikan penghormatan terakhir untuk beliau. Lantunan ayat suci menggema dengan merdu, dilantunkan bilhifdzi oleh para santri. Sedang kami santriwati berkumpul di musholla untuk membaca ar ra'du dan surat yasin.
Pagi hingga sore langit masih saja sendu, merintikkan gerimis tanda bela sungkawanya atas kepulangan Kiai kami ke Rahmatullah.
Sekitar pukul 4 sore keranda yang membawa jenazah bapak digotong banyak santri dan masyarakat ke pemakaman dongkelan. Bapak disareake bersebelahan dengan para sesepuh Al Munawwir yang lain.

Selamat jalan Syaikhona,
Menatap pondok semegah ini, santriwati-santriwati yang membeludak dengan penuh kecintaannya kepada beliau.
Menatap kamus beliau,
membuat kecintaan kami kepada beliau semakin membumbung.
Kau meninggalkan kami dengan pencapaian luar biasa, Bapak.
Kau pergi dengan segudang jerih perjuangan atas nama agama duhai guru.
Engkau beriatirahat setelah lelah yang panjang dengan seluruh perjuangan yang tak sedikit tak pula sebentar.
Duhai guru,
selamat beristirahat.
selamat menikmati jamuan indah di alam yang lebih kekal.
semoga estafet keilmuan ini terus berpendar dan tak luruh oleh waktu.
Kami sayang bapak.


PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta.
Jumat, 19 April 2013.

2 komentar:

  1. Kemaren pas harlah Nu Ngaji Puisi diAlkid ada 2 santri yang menyayangi beliau membacakan puisi teruntuk beliau dg titian air mata, begitupun aq sebagai penyimak, rasanya nyesssss tessss, tesss, air mata menetes dengan sendirinya, ach,, kedalaman rasa sayang membuat hati kita semua tersayat oleh rasa kehilangan, Bapak,,,Allahummagfirlahu Warhamhu wa fuanhu, T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaga seluruh jerih payah alm.Bapak yuk mbak..
      Smoga estafet keilmuan tdk hanya 'mandeg' bersamaan dgn kepergian beliau.
      Kita semua sayang beliau.:)

      Hapus