_Bapak K.H. Ahmad Warsun Munawwir_
Fajar itu, kamis itu, 18 April 2013.
Gerimis sudah menemani fajar menjemput sang
mentari.
Kamarku masih lengang, ada mbak luluk yang
sedang makan sahur dengan nasi kucingnya. Hingga aku turut menyertainya sekitar
15 menit sebelum adzan shubuh berkumandang.
Suasana masih amat dingin ketika kuambil
air wudlu dan anak-anak mulai bangun dan menuju musholla untuk jama'ah shubuh.
Setelah shalat, kusempatkan tidur sejenak
karena semalaman latihan khataman membuat rasa kantuk merajai(alesan,hehe).
Sekitar pukul setengah 6, kuakhiri tidur
sejenak dan beralih menyetrika beberapa baju.
Tiba-tiba ada 'koar-koar' dari pengurus di
lantai 1(nb:kamarku ada di lantai 2), teriakannya singkat, "mbak-mbak...ke
musbar(musholla barat) sekarang..baca yasin buat bapak(cara kami memanggil abah
pondok)!!"
Di hati langsung 'jlep'. Dalam hati
langsung bertanya, 'kenapa yasin?'
Kalau ada musibah sakit atau yang lain
ndalem pondok sering mengumpulkan santriwati:santriwati untuk membaca shalawat
thibbil qulub, muqoddaman, dan lain-lain.
Tapi pagi itu, kenapa yasin, kenapa bapak?
Langsung kutinggal setrikaanku yang baru
separuh jalan, buru-buru menyomot jas pondok dan memakai jilbab secepat kilat. Saling
diam, tapi kami semua punya perasaan tak enak dengan suasana pagi itu.
Di musholla barat suasana sudah mengharu biru.
Santriwati berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran beranggotakan beberapa anak dan
membaca surat yasin. Aku Mbak Hanik dan Mbak Luluk mulai membaca surat yasin dengan
dihadaroh sebelumnya. Yasin pertama terlewadkan dengan mata kami yang celingak-celinguk
mencari kejelasan 'ada apa ini?', 'bagaimana dengan bapak?', 'kenapa seseorang di
barisan depan itu menangis dalam bacaan yasinnya?'.
Saling bertanya pun tak ada guna. Kami tak berucap
selain bacaan Yasin yang masih berusaha kami lantunkan dalam kebingungan.
Hingga seseorang di depan musholla yang adalah
mbak nopel, mengintruksi kami untuk membaca shalawat thibbil qulub untuk kesembuham
bapak.
Mulailah koor thibbil qulub menggema serempak
di musholla barat. Mengalun dan berirama. Tapi ternyata shalawat koor itu hanya
berjalan beberapa menit hingga mbak nopel menangis histeris dan menghentikan shalawat
thibbil qulubnya membuat kami bingung tanpa kejelasan.
"ada apa mbak?" tanyaku pada mbak
hanik.
mbak Han hanya menggeleng dengan raut wajah
sedih.
Ahh...ada apa ini?? Mbak nopel kok berhenti
mimpin thibbil qulubnya, gimana sih? Kita jadi bingung nggak ada yang mimpin!
Tanpa kejelasan kulanjudkan sendiri shalawat
thibbil qulubku dengan air mata yang tanpa terasa sudah mengucur deras menuruni
pipiku. All is well, all is well, semua akan baik-baik saja, ucapku dalam hati dan
kuuatkan bibirku yang semakin bergetar menahan suara tangis.
Mbak Indah, ketua rayonku yang memperjelas semuanya.
Ia berjalan dengan langkah tergesa entah darimana menuju bagian depan musbar, meminta
mikrofon dan mulai menata kata, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un.."
Pecah sudah tangisku, tangis mbak hanik, tangis
mbak luluk, tangis kami semua. Ya Tuhan..sesak sekali dada ini mendengar kalimat
itu.
Koor diubah menjadi tahlil, tangisan masih dominan
dan menyulubungi atmosfer musbar. Kami semua, punya slide-slide di kepala yang secara
reflek me'replay' kenangan kami tentang bapak.
Dua tahun, baru dua tahun aku menempati pondok
ini. Ramadhan 2 tahun silam aku bertemu sosok alm.bapak, matur untuk agar bapak
sudi menerimaku sebagai santriwati beliau. Beliau dengan wajah sepuhnya, menerimaku
dan meridloiku untuk menjadi murid beliau. Bapak, adalah sosok humoris yang tiap
mucal kitabnya mbah Yai Ali Maksum(Hujjah Ahlussunnah wal jama'ah) ngendiko "aku
iki ngene-ngene iseh 'trendi' loh cah..(lalu beliau tersenyun renyah)".
Bapak adalah sosok perhatian yang saat kami
meminta ijin beliau untuk pulang ke rumah, beliau akan dengan ringannya bertanya
sebagai bentuk raaa sayang beliau kepada kami.
Bapak adalah sosok luar biasa yang kesehariannya
masih sering berkeliling melihat-lihat area pondok. Mengamati santriwati-santriwatinya.
Menanyakan ini itu yang diperlukan untuk kemaslahatan pondok.
Bapak dengan hazanah keilmuan beliau berupa
Kamus Almunawwir yang membahana namun penampilan beliau sungguh bersahaja, tak berlebihan
mewahnya. Sungguh rendah hati dan tak ada yang istimewa, beliau amat sederhana untuk
ukuran kiai besar dan aktifis politik.
Bapak, sosok yang kami kagumi, kami sayangi,
kami tunggu mauidlohnya, kami puja kehadirannya,. Bapak, sosok ayah kedua kami di
sini, di bumi perantauan, di tengah lautan pencarian ilmu.
Seharian itu pondok rame oleh pelayat yang datang
silih berganti. Ulama-ulama besar negeri ini banyak yang datang memberikan penghormatan
terakhir untuk beliau. Lantunan ayat suci menggema dengan merdu, dilantunkan bilhifdzi
oleh para santri. Sedang kami santriwati berkumpul di musholla untuk membaca ar
ra'du dan surat yasin.
Pagi hingga sore langit masih saja sendu, merintikkan
gerimis tanda bela sungkawanya atas kepulangan Kiai kami ke Rahmatullah.
Sekitar pukul 4 sore keranda yang membawa jenazah
bapak digotong banyak santri dan masyarakat ke pemakaman dongkelan. Bapak disareake
bersebelahan dengan para sesepuh Al Munawwir yang lain.
Selamat jalan Syaikhona,
Menatap pondok semegah ini, santriwati-santriwati
yang membeludak dengan penuh kecintaannya kepada beliau.
Menatap kamus beliau,
membuat kecintaan kami kepada beliau semakin
membumbung.
Kau meninggalkan kami dengan pencapaian luar
biasa, Bapak.
Kau pergi dengan segudang jerih perjuangan atas
nama agama duhai guru.
Engkau beriatirahat setelah lelah yang panjang
dengan seluruh perjuangan yang tak sedikit tak pula sebentar.
Duhai guru,
selamat beristirahat.
selamat menikmati jamuan indah di alam yang
lebih kekal.
semoga estafet keilmuan ini terus berpendar
dan tak luruh oleh waktu.
Kami sayang bapak.
PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta.
Jumat, 19 April 2013.
Kemaren pas harlah Nu Ngaji Puisi diAlkid ada 2 santri yang menyayangi beliau membacakan puisi teruntuk beliau dg titian air mata, begitupun aq sebagai penyimak, rasanya nyesssss tessss, tesss, air mata menetes dengan sendirinya, ach,, kedalaman rasa sayang membuat hati kita semua tersayat oleh rasa kehilangan, Bapak,,,Allahummagfirlahu Warhamhu wa fuanhu, T_T
BalasHapusJaga seluruh jerih payah alm.Bapak yuk mbak..
HapusSmoga estafet keilmuan tdk hanya 'mandeg' bersamaan dgn kepergian beliau.
Kita semua sayang beliau.:)