Senin, 07 April 2014

Someday

Beberapa hari yang lalu, selepas PPL I di Kampus, ada seorang bapak-bapak paruh baya yang terlihat berjalan kebingungan di sekitar gedung fakultasku. Beliau mendekatiku dan teman-teman yang sedang menuju parkiran.
"Mbak, Mushollanya sebelah mana ya?" tanya beliau.
Novi yang paling dekat menjawab sambil mengarahkan beliau.
"Dari sini ke kiri Pak, nanti ada Pos Satpam, deketnya itu Masjid." jawabnya.
Beliau masih terlihat kebingungan. Yah, ini bukan kejadian pertama ada orang awam yang tak mengenali Masjid Kampus yang menjulang semegah itu dan berada di muka gerbang kampus, karena Masjid tersebut berlabel "Laboratorium Keagamaan".
Bapak tadi mengangguk dengan ekspresi yang belum sepenuhnya paham. Kemudian beliau berbalik dan memulai lagi pencariannya atas masjid kampus.
Novi dan aku saling menatap, paham kalau sebenarnya Bapak tadi belum begitu mengerti arah masjid. Lalu dengan cepat kuambil motor dan menyusul bapak tadi.
"aku nganter Bapaknya dulu Pi,"
Nopi mengangguk.
Karena aku juga berencana pulang, sekalian saja kuantarkan Bapak tadi ke Masjid Kampus. Beliau menyambut ajakanku dengan senyum lega, sepertinya beliau sudah lelah mencari sedari tadi.
"Ikut acara wisuda ya Pak?" tanyaku.
"iya Mbak, ini mau shalat dulu nyari mushola"
Perbincangan kami hanya sesaat, karena Masjid Kampus tak begitu jauh, apalagi ditempuh dengan motor. Beliau melemparkan senyum dan mengucapkan terimakasih. aku pun berpamitan.
Efeknya, sepanjang perjalanan pulang aku terus melamun. Membayangkan, bukankah aku seperti seorang anak yang sedang mengantarkan ayahnya tadi,
ah,
aku ingin sekali melindungimu ayah,
menemanimu di usia senjamu,
memperlakukanmu dengan baik di setiap waktuku bersamamu,
Tapi saat kau bersamaku, aku tak bisa memperlakukanmu dengan baik,
saat kau di sampingku justru aku yang selalu merepotkanmu,
saat kau di sisiku, justru aku selalu menambah bebanmu.

Lagi-lagi aku menangis dalam diam, menangis yang aku sendiri tak menyadari kenapa.
Lagi-lagi aku membuat diriku kembali mengingatmu.

Tak apa Ayah,
aku masih akan selalu mencintaimu,
Melindungi dan membuatmu bangga,
kini hanya tersisa satu cara untuk melakukannya
Kau akan tersenyum bangga Ayah,
aku janji akan selalu jadi yang terbaik untukmu, untuk ibu.
Untuk kalian yang tak pernah lelah memberiku mentari saat duniaku gelap.
Sayang Kalian,
:)

April, 8th

Tidak ada komentar:

Posting Komentar