Usiaku sudah 21.
Di usia ini, orang memiliki berbagai versi untuk memilih jalan hidupnya. Pilihan yang akan memiliki ekor panjang dan membuat hidupnya berubah. Hey, bukankah begitu namanya hidup itu, you choose you alive. Di usia ini, mungkin ada orang yang sudah memilih lebih awal, gagal lebih awal dengan pilihannya hingga kemudian ia menemukan resep yang 'click' dengan hidup yang dijalaninya. Ada yang memilih membagi jalannya untuk dilewati bersama dengan orang yang akan menemaninya sepanjang waktu dalam hidup. Mungkin, ada yang sama sepertiku, ordinary people gitu lah bahasa gaulnya, lagi nyusun bab 3 dengan santainya, lagi nderes karena ingin segera naik panggung khataman, hm.. atau bahkan ada yang sudah melihat list beasiswa di sana-sini untuk nantinya belajar lagi dan memulai hidup baru lagi.
Pada usia ini, kadang aku merenungkan kata 'dewasa', 'adult', lalu kuhubungkan dengan kata 'arif' atau kerennya 'bijaksana'.Bahkan diusia yang berkepala 2, aku belum mengerti apa itu 'dewasa'. Nyatanya, dulu aku pernah punya pacar dengan usia berkepala 3 dan menurutku, ia harusnya 'dewasa', namun kenyatannya, ia lebih sering mengecewakanku yang telah menaruh harapan tinggi dengan mendewasakannya. Loh, malah curhat :P
Intinya, I am 21 years old, and I am confused. How to be great people?
Gimana sih biar semua orang bisa nerima aku? Gimana biar aku nggak terkesan autis?Haha Atau kadang ada pertanyan gimana biar semua orang bisa selalu tersenyum? Trus aku ngomong sama tembok dan akhirny kejedot. -___-
Jawaban sementaraku, non sence! Nggak akan ada senyum atau bahkan tawa yang serempak. Menjadi dewasa, bukan berarti jika aku bisa membuat semua warga bumi tersenyum senang, baik hati atau semua keinginan mereka terlaksana olehku.
Jika itu yang hendak kugapai, maka pepatah jawa mengatakan, "Koyo cebol nggayuh lintang". Si kurcaci yang mencoba meraih bulan. Orang baik, nggak harus SELALU ikut omongan orang kan? Karena emang semua orang punya prinsip yang kudu diperjuangin. Semua orang punya latar belakang keluarga, kultur lingkungan, dan bakat masing-masing. Jadi kalau ada orang ngomong kanan terus yang satunya ngomong kiri, gimana dong?
Jadi jadi jadiii.. pusing juga kan ngerumusin "dewasa". :P
Mulai dari membaca, memahami diri sendiri, maka kita akan tahu bagaimana alam ini membalas pesan. Tahu kan rumusan alam yang paling umum dan paling benar? Selalu ada happyness setelah sadness. Jadi, let it flow aja, dan seelalu berusaha jadi diri sendiri. Jadi diri sendiri yang tidak lupa untuk memperbaiki pribadinya.
Dulu, aku pernah ngerasa dunia ini kayak toko waktu udah malem, TUTUP. Aku ngerasa dunia ini udah bubar karena sebuah alasan yang kusebut "kehilangan". Siapa pun yang pernah mengalaminya pasti tahu gimana sakitnya, lebih maksimal dari sakit gigi, lebih dasyat dari takutnya kalo ada gempa. Bayangin aja, orang yang tiap hari sama-sama kita terus di blacklist dari bumi ini, praktis juga menghilang dari penglihatan kita. 18 tahun yang terlewati bersama alm. Bapak adalah sebuah keajaiban, and loosing him is a disaster. Yap, begitulah aku terus menangis dan membuat pengakuan kesedihan dimana-mana, facebook, twitter, entah apa lah itu. Tapi I am sure, that all is real. Setiap kesedihan adalah sama, jadi nggak ada underestimate untuk kesedihan yan dianggep lebih kecil dari ini atau yang satu lebih besar dari itu. Semua kesedihan patut diapresiasi, Hahay.
Intinya, setelah sebuah momen yang bernama "kehilangan" itu, waktu mulai mengajariku bagaimana membaca alam, membaca garis-garis langit dan bumi. Percaya atau enggak, aku bisa merasakannya, saat Tuhan menutup satu pintu maka Ia pun sedang membuka 2 atau bahkan 10 pintu yang lain, yang lebih. Jadi, aku nggak bilang kalau aku lupa pernah kehilangan Ayah di usia yang tergolong 'unyu-unyu', namun aku selalu diajak berdamai oleh waktu. Makasih waktu. :*
Inget ya, Happiness dan Sadness selalu sepaket, :)
Kalau kata seseorang, usia bukan parameter yang bisa digunakan untuk mengukur kedewasaan. Tapi bagaimana dia belajar, melihat, memahami lebih detail dan lebih peka dari orang lain. Atau bahkan merasakan sakit yang melebihi orang lain. Tuhan memberi kita arena berupa bumi ini, ayok kita sering-sering latihan, hingga nantinya kita bisa menemui-Nya dengan nilai rapor yang bisa dibanggakan dan Ia sudi meridloi kita.
:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar