Rabu, 17 Oktober 2012

CERPEN-ku


Ini adalah cerpen kedua yang dipaksa untuk tuntas karena cerpen ini pesanan seseorang. kisah ini milik seorang teman. bahasanya mungkin masih sangat kaku, namanya juga latihan..:P. but, pefrect is start by practice. selamat menikmati. :)

“Kita, dan Simponi Takdir”
By : Nieda Haromain

Kalau bukan karena sayang, mengapa ikatan ini masih saja ada. Lalu apa nama ikatan aneh ini kalau bukan sayang, atau mungkin orang akan dengan terbiasa menyebut semua siklus ini dengan nama “cinta”. Jika bukan atas nama rasa, bagaimana mungkin terwujud sepotong hati yang saling terkait. Cinta, selalu saja sama di setiap kisah klasik belahan dunia mana pun. Bahagia, derita, adalah dua hal yang berjalan seiring seirama dengannya.
                Bukankah seharusnya majas menjadi kemasan lazim dalam seminar apa pun yang terkait degan cinta? Majas yang selalu kurapal dalam diriku, tentang adalah bagaimana aku menatap indahnya langit tiap detiknya. Aku menatap langit, lalu aku menatap dirimu di seluruh atapku. Jika langit adalah tempat bergantungnya awan, maka yakinku kau adalah langit tempat kugantungkan semua rasa yang terlanjur terpatri di seluruhku. Lalu kesukaanku yang kedua, laut. Jika laut adalah wadah di mana seluruh air akan tertempa, maka bagi diri ini kaulah tempat di mana seluruh cintaku berlabuh dengan pasrah.
                Candamu, tulus, serta wujudmu, adalah paket mukjizat yang aku tak perlu menjadi Nabi untuk mendapatkannya. Katamu, jalani saja setiap langkah, jika jalan kita telah habis, jika hanya lumpur kotor yang memenuhi jalan setapak kebersamaan kita, mungkin pula ribuan keping darah akan terlerai dari kisah yang tak mudah ini. Yang perlu kau tahu, sayangku bahwa perasaan yang ada ini bukan sekedar, tapi segalanya.
                Hari itu ulang tahunku, sengaja kau bungkuskan novel mungil yang kini masih menjadi salah satu koleksiku. Cukup senyum simpul, memenuhi wajahku. Aku tahu, kau selalu, selalu ingin membuat hari bahagiaku lebih bermakna.
“Makasih Mamas sayang..” kukecup mesra ujung novel itu sebagai perwakilan atas kecupku untukmu.
“Apapun, akan mamas lakukan untuk Nok Naila Nabila yang pualing cantik.”
“Iya dong, kudu, wajib, harus itu mas!”
“tahu nggak kenapa mas kasih novel itu ke kamu?”
“Paling kehabisan ide. Iya kan?” godaku.
                Muka tembem itu sedikit bergeming, lalu kau kembali tersenyum seperti seharusnya. Sebenarnya, senang sekali bisa melihat dan memiliki senyum manis itu.
“Alasan sebenarnya adalah..
                Tangan gempalnya membuka novel yang sebelumnya kupegang. Halaman tertentu, dibukanya lebar dan dibuatnya aku membaca. Sebuah kalimat yang berbunyi “kehilanganmu adalah kematian bagiku”.
“Mas rasa, ini cukup mewakili perasaan mas ke kamu.”
                Senyumku kembali mengembang. Harusnya kau mampu membaca arti senyum simpul ini, harusnya kau tahu betapa bahagianya aku.
                Bagiku, kau selayaknya nikotin, yang meracuni setiap rongga hatiku dengan segala rasamu. Tulus, murni, dan sesak semua itu berjubel dalam hidupku. Hingga aku terbaring lemah dan mengamini setiap alur prosa dari bumi cinta yang di sanalah kau dan aku melabuhkan tautan, bahkan kepingan harapan.
                Sayang, bukankah pernah kukatakan padamu, aku “cinta”, tapi batas tertentu memotong rasa sayangku. Yang awalnya aneh dan tak tentu, saat rasamu masih untuk orang lain begitu pun aku. Namun kemudian waktu dengan baiknya membisikkan nada terbiasa. Aku terbiasa denganmu maka aku mencintaimu. Aku tersihir oleh setiap sudut kemasan humormu, ekspresimu saat kau merajuk, wajah “baby face”mu saat kau terlelap. Semuanya menggelayut merajuk untuk tak ingin enyah dari pikirku.
“So, sudah berap lama kita seperti ini?” tanyaku, sengaja sekali ingin memancing jawaban skeptismu.
“Nok ingat, seharusnya ini sudah 1 tahun sejak pertama kita bertemu. Dan masing-masing dari kita saat ini masih terikat oleh komitmen lain, lantas...”
                Suaramu seperti seseorang dari entah pedesaan mana, yang menelfon kerabatnya yang tinggal jauh di tengah hiruk pikuk kota. Lantas sinyal yang ada di pedesaan pun menghilang, lenyap. Suaramu seolah tak ingin berhenti, namun tak mampu menemukan kata untuk kau susun dengan rapi. Lalu yang kulakukan, hanya menunggumu melanjutkan kata, jika memang ada, seharusnya kau katakan saja padaku. Bagaimana agar kita tak harus menyakiti orang-orang yang sama-sama telah mengikat hati dengan masing-masing dari kita sebelum pertemuan rumit ini.
                Lalu kau pegang lembut jemari tanganku di tengah pertemuan kita yang ke sekian. Saat itu, kau adalah kakak, sahabat, dan segala apa yang aku butuhkan. Aku tahu, ada sebagian jiwaku yang telah menepi di teluk asa, yang baru saja hadir bersamaan dengan kehadiranmu di hidupku.
“Kita jalani saja Nok, Mamas sayang Abing, begitu pun Mamas tahu, bagaimana perasaan Abing ke mamas.”
                Kurekatkan pelukan sayangku tanda persetujuanku atas janji tanpa saksi itu. Yah, inilah jalan yang mungkin kita pilih hingga tak harus ada kata berpisah atau pun menyakiti.
***
                Sejak saat yang samar kuingat itu, hari-hari mendayu penuh harum mawar yang adalah isyarat akan nada cinta yang kau hembuskan. Kita sama-sama menyadari dua hal urgent dalam samudra suci ini. Pertama, kau mencintaku. Begitu pun aku, entah seberapa banyak prosentase cinta kita masing-masing, hanya waktu yang mempunyai daftar jawabannya. Kedua, ada yang salah dengan cinta di musim dingin ini. Hujan, angin, bahkan badai yang selalu siap menghabisi ikatan kita menggangguku dengan bermacam mimpi buruk yang hingga kini tak kunjung reda. Kau dan aku, tak dilahirkan dalam sekte yang sama. Itulah mengapa, aku takut kehilangan cintamu.
                Dan hari itu, takdir seolah mendengar sudut ketakutan dalam hatiku. Dia mendengar dan datang membawa rasa takutku pada kenyataan yang harus kita lalui. Adalah Mamiku, yang menjadi tangan takdir, menjelma menjadi orang yang menggugah kata “perpisahan” dalam irama kita.
“Sejak kapan kalian jadian?” tanya Mami dingin, dengan raut wajahnya yang tak sedang bercanda.
“enggak Mam, nggak pernah terjadi apa-apa antara Abing dan Mas Sulaiman.” Jawabku lirih.
                Terbongkar sudah semuanya tanpa sedikit pun ada tirai yang mampu menjadi perisai bagi kau dan aku. Mamiku tak akan pernah membolehkan putr putrinya menjalin hubungan spesial dengan orang yang tak ada dalam listnya. Dan entah apa pasalnya, Abah pun mengamini ingin mami. Namun Abah yang kupuja itu lebih banyak diam, beliau senada dengan Mami dalam pemikiran, namun cara beliau menghardik tidak sama.
                Setelah semuanya terbongkar, masih sangat jelas teringat olehku kau datang dan berlutut di kaki Abahku, karena di luar hubungan kita kau sesungguhnya adalah orang kepercayaan beliau, kau adalah tangan kanan beliau. Mamas, bahkan air matamu menganak sungai di kaki Abah. Lirih kuserap kata-katamu yang begitu takut, takdzim, dan menyesali segalanya. Bersama satir tipis itu, aku menatap perih dirimu yang diusap-usap punggungmu oleh Abahku. Abah memaafkamu hari itu. Mungkin karena kau terlalu berharga untuknya. Namun sorot matanya jelas, mengingatkan dengan tajam, dan berkata,
“Jangan lagi dekati Nabila!!”
                Suara mata yang tak pernah terucap itu mendarah daging dalam pikirmu, tapi tidak dengan hatimu. Sembilu menghujam kala itu, memaksa kita berhenti sejenak enth hingga kapan. Kau dan aku, dipaksa untuk memilih perpisahan dengan air mata sebagai simbolnya. Tanpa kata, tapa perpisahan, kita mengakhiri begitu saja semuanya, dalam diam.
“Aku sayang mamas, entah seberapa dominan rasa ini mengaduk-aduk hatiku. Tapi untuk berpisah, kurasa ini terlalu egois bagi takdir!” ucapku lirih tanpa pernah kau dengar.
***
                Tahukah kau, sejak semua huru-hara percintaan itu terjadi, tak semalam pun kuhabiskan tanpa tangis. Menangis menjadi kebiasaan baruku sejak penghapus Tuhan menghapusmu dari dari hidupku. Aku kehilangan semua humormu, gelak tawa renyah yang kau perdengarkan padaku setiap waktu, aku rindu.
                Lalu melalui angin, kabar darimu pun terdengar olehku. Tubuh gempalmu termakan oleh hati yang terlukai. Kau menghabiskan kesakita yang maha melebihi apa yang kulalui. Dua kehampaan yang sama besarnya, dengan dua plot yang berbeda.
“Kangen sama Bang Sule Bing?” tanya temanku santai.
“Sedikit.” Jawabku sekenanya. Yah, aku tak pernah bisa serius mengungkapkan rasa cintaku kepada setiap orang, cukup aku saja yang tahu betapa dalam cintaku padamu.
“Mau nitip salam nggak?” tawarnya.
                Sedikit berbinar mata ini setelah sekian lama hanya air mata yang nampak di sana.
“Boleh” jawabku, berusaha menutupi jutaan bom bahagia yang siap untuk meledak.
                Setelah salam menyalam lewat pos dadakan yang dengan baik hati mau menyampaikan salamku padamu dan sebaliknya, akhirnya kau dan aku kembali terhubung. Ah, seharusnya mudah saja bagi kita melewati segala cobaan cinta, asal itu tak melibatkan orang tua. Sekarang, kita hanya mampu diam-diam atau berbisik sekuat sisa tenaga yang ada, saling menggumamkan perasaan masing-masing. Mungkin selayaknya dedaunan yang saling bergesekan, saling menari dan merasa bahagia sekalipun ia mempunyai kemungkinan untuk terjerembab jatuh karena gesekan itu.
                Mengumpulkan yang terserak di antara puing-puing yang lalu duhai sayang, itulah perkerjaan kita saat ini. Membenahi lara di hati masing-masing. Aku, kau, dan takdir, bersinergi menjadi pusaran magnet. Kau tak ingin jauh dariku, begitu pun aku, dan kita, tak boleh memarahi takdir, agar dia menjadi penyelamat kita.
“Jangan lagi membuat mamas merasakan kehilangan seperti itu Nok.” Lembut kalimat itu mengguyur gersang rerumputan yang lama tak kau raba, tak tersentuh olehmu.
“Tidak akan pernah mamas sayang.” Kalimat manjaku selalu saja hanya kuhadiahkan untukmu.
                Jika aku boleh bermohon pada takdir, aku akan membuat berbagai macam penawaran. Apapun akan kugadaikan, jika mungkin boleh kupilih sendiri jalan jodohku. Jalan takdir, biarlah seperti ingin Tuhan, biarlah cukup waktu yang menchecklist semua harapan, atau menghapus sebagian kekecewaan. Yang kutahu, cintaku indah bersamamu. Yang kumau, selamanya adalah ukuran yang pantas bagi kebersamaan ini. Entah tiga, atau lima tahun yang akan datang apa yang akan terjadi, biarlah tetap jadi rahasia Tuhan hingga waktu itu datang. Yang perlu kau tahu, jangan lagi membuat pilihan untuk berpisah. Yakinlah, cinta kita kuat. Jika waktu itu tiba, datanglah, jemputlah aku, dan katakan pada Abah dan Mamiku bahwa kau telah pantas untuk mendampingiku.

Suatu hari aku menatap langit
Dan kau adalah ingatan kedua setelah indahnya,
Suatu hari aku memandang laut,
Dan kau ada dalam ombak indah yang mencumbunya,
Kau,
Adalah segalanya,
Yang membuatku percaya,
Bahwa cinta itu ada,
Kau,
Satu orang yang hanya denganmu aku bersandar tanpa merasa perlu untuk resah,
Kaulah,
Hidupku.
;-*

1 komentar: