Sabtu, 20 September 2014

PPL_KKN SMA N 5 JOGJA

Masa lalu, its mean something in our past. Sesuatu yang tempatnya di belakang perjalanan hidup kita. Entah nongkrongnya di pojok mana, apa pun bentuknya dia, kalau di belakang ya kudu mau disebut 'masa lalu'.
Oke gais, kali ini aku mau cerita tentang masa  laluku. Hal-hal yang kulalui dalam kurun waktu 3 bulan yang lalu. Lebih spesifiknya, aku pengen berbagi tentang pengalamanku ber'PPL-KKN' ria. Jadi, agenda wajib untuk mahasiswa semester 7 adalah kegiatan yang memakan waktu 3 bulan, yang biasa disebut KKN(Kuliah Kerja Nyata), or sebagian anak gaul akan membuat plesetan dengan bilang kalau kepanjangan dari KKN adalah Kisah Kasih Nyata. Jadi kalian mesti pinter-pinter bedain mana becandaan mana kenyataan ya gais. :p
Singkat cerita, aku punya keinginan untuk membuat hidupku jadi lebih praktis, siapa pun juga pengen gitu ya kan? Aku me-request kepada panitia PPL-KKN untuk menempatkanku di daerah Kota. Ini bukan karena aku alergi Desa, tapi lebih karena aku pengen bisa PPL-KKN sekligus ngerjain skripsiku yang ngambil tempat di SMA N 7 Yogyakarta, tempatnya ada di Jokteng Kulon gais, kiri jalan deketnya halte busway. :)
Oia, lupa mau jelasin. Kenapa kok judulnya PPL-KKN, bukan KKN doang?
Jadi, kalau di Fakultasku(Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan) PPL sama KKN nya dijadiin satu alias diintregasikan. Pelaksanaan KKN yang seharusnya di masyarakat diganti di sekolah, sehingga kita nggak hanya ngajar di sekolah tapi juga melaksanakan kegiatan kemasyarakatan, kayak ngecat, angkat-angkat barang, dan pirantinya.
Pengumuman pembagian kelompok memutuskan kalau aku dapet tempat PPL-KKN di SMA N 5 Yogyakarta. Beberapa saat setelahnya,aku bingung bereskpresi, nggak tahu mau gimana dengan tuh takdir.SMA 5 Jogja yang notabene adalah sekolah favorit, teman-teman sekelompok yang sebagian besar nggak akrab denganku.
Oke, kita lihat apa yang akan terjadi dengan 3 buln kedepan, batinku saat itu.
Kelompok PPL_KKN Integratif di SMA N 5 Jogja beranggotakan 7 anak. Mereka adalah :
1. Ahmad Barokah.

Nggak tahu kenapa, ini nama selalu jadi yang pertama dalam kelompok ini. Maybe because he was a leader. Dia ini ketua keompok kami. Mukanya innocent, cowok sih, tapi I am suer, dia suka bingit ngomong. Pengen tak kasih tombol 'Mute' biar bisa bikin dia jadi kayak pantomim, biar nggak berisik. hehe
Ini anak lebih sering jadi bahan becandaannya anak-anak kelompok kami karena ke'lola'annya dalam mengelola suatu gagasan, heheh Peace Rok, just Kidding, cuman becanda. :D
But, generally, he was a good leader. Barokah orangnya ngalahan, mau aja jadi kalau dikibulin kami-kami yang super susah dibilanginnya ini. :P

2. Ummy Masitoh, my sweety, :*
Yang ini namanya Umi. Dia nih satu-satunya yang paling deket sama aku. Pasalnya aku udah sering main ke asramanya dia. Karena dia adalah temen deketnya temen deketku, nah kan, ambigu gitu. -_-
Umi adalah sosok rajin yang selalu silence tapi do more. Banyak kerja nggak banyak kata. Enaknya punya temen Umi tuh, aku bisa ngopi RPP dan Tugas-Tugas PPL_KKN karena dia selalluuu uda ngerjain duluan, ehehhe
Dia punya ciri khas yang nggak kelihatan dari cashingnya, yaitu ngomongnya yang suka loud, alias keras, kayak toa masjid, tapi kalo uda keluar terharunya, do'i bisa mewek kayak baby baru lahir. Hatinya lembut gais. :D
Umi juga punya misi yang sama kayak aku, pengen ngerjain skripsi barengan sama PPL-KKN, do'i paling rajin menyemangatiku, paling sering ngingetin aku untuk megang skripsi yang berulang kali kutelantarkan.
Pokoknya, Umi punya perangai yang menyenangkan, seru diajak becanda, bisa banget diajak rajin, dan yang selalu kami laksanakan bersama adalah Sarapan paggi banget di kantinnya Mas Agus(Kantin SMA N 5 Jogja) tiap hari selain senin dan kamis. Karena Umi ini juga wanita sholihah yang setiap senin-kamis selalu puasa. 
You're my best Mi, Love u pulll deh, :*

3. Zumrotun Nafisah

Asik. Itulah kesan pertama yang muncul dari anak bernama Napis ini. Manja iya, namanya juga anak tunggal. Tapi dialah yang paling perduli tentang kesejahteraan kelompok. Yang kebetulan rumahnya deket sama SMA N 5 Jogja dan terpaksa harus ngerjain banyak tugas kelompok sendirian..Semangat Adek..({})
Dulunya nggak pernah deket banget sama Napis, tapi karena PPL_KKN ya akhirnya jadi tahu rumahnya Napis, jadi temenan di BBM, jadi tahu nomornya, jadi tahu betapa gilanya nih anak. Kalau udah nggak mood disuruh apa aja nggak mau, :P Kalau lagi semangat dan happy seharian bisa nggak kerasa ngerjain laporan. Satu lagi yang khas banget, Napis selalu punya pose yang sama untuk setiap kali poto, yaitu senyum meringis kelihatan giginya ala pepsodent. HIIIIII :D (Poto diatas sengaja tak pilih yang dianya lagi 'mingkem' alias mulutnya rapet, ihihihihihi)
Kebetulan kami punya satu kesamaan, yaitu kami sama-sama mendapat pembimbing skripsi bernama Pak Fuad. Entah harus bahagia atau merasa nestapa, yang pasti aku selalu berusaha menyemangati Napis meskipun aku sendiri nggak yakin dengan takdir itu. -__-
Seneng banget bisa sekelompok sama nih anak, seruu ajah deh. :)

4. Aziz Ramadhani
Kelihatannya aja si Aziz tuh badannya gede, disuruh angkat-angkat rak perpus aja paling uda lemes. :P
Ini namanya Aziz, paling kemarab(suka ngomong pake bahasa arab) diantara kita karena emang makanannya dia tiap hari adalah kitab gundul. Paling suka bikin kita ketawa ketiwi dengan gaya dia yang sok anggun, bilang mau 'bobok-bobok cantik lah', please look at his figure!! Aneh banget cowok segede itu bilang mau "bobok-bobok cantik". Ahahahay.
Aziz 11 12 sama Panggah(anggota kelompok 31 yang lain). Mereka paling ahli beretorika. Tapi jarang actionnya. Coba bayangin, Jadi kita bertujuh punya tugas piket persekolahan seperti piket TU, Perpus, BK, dll selama 3 bulan dan dilakukan bergantian. Nah, si aziz ini, masa dia nggak pernah sekali pun sowan ke TU untuk piket selama 3 bulan? keren banget nggak tuh. -__-
Yaaa tapi begitulah aziz dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia adalh teman PPL-KKN yang menyenangkan dan asyik. Dia juga yang suka punya inisiatif untuk mengarahkan kami saat diskusi. Intinya sih, dia oke. :)

5.Panggah 
Ini anak ngeselin abis! heheh
kesan pertama pasti kayak gitu. Iya aja, kalau ngomong sama Panggah ntar jadinya emosi njuk bertengkar. Dia, seperti yang sudah saya bahas di atas, sukaaaa banget beretorika lias lambenan. Sukanya ngomong dan jarang dilakuin. Jadi kalau ketmu Panggah, awas aja, bikin plang yang gede, tulisin, "SILENCE PLEASE" atau lebih bagus lagi tulisannya, "BISA DIEM NGGAK LOE!!" ehehehe
Tapi gais, ini anak paling diandalin kalau soal pekerjaan fisik. Dia juga palin nyadar kalau dia suka nggak tertib aturan, suka selengahan sendiri di antara kami, tapi kalau masalah ngecat, ngangkat-ngankat, piket pembelajaran yang seringnya disuruh nganterin bekal siswa dia paling rajin loh.. :D
Menurutku, Panggah juga paling pintar mengkondisikan kelas, do'i suka ngajak anak-anak main gitar dan nyanyi bareng di kelasnya.
Well, seneng juga bisa kenal Panggah di PPL-KKN.:)

6. Aviatun Husna
Mbak Avi, bagitulah kami biasa memanggilnya. Kamijuga nggak begitu dekat sebelumnya, bahkan sampai kegiatan PPL-KKN berakhir pun sebenarnya aku nggak begitu akrab dengannya karena Mbak Avi sukanya nyelonong sendiri, nggak ngumpul sama kami berenam.
Yaaahh sedikit yang aku tahu, dia suka bilang 'semangatt!!' ke kita-kita. Trus dia juga banyak memnbantu kita masalah ketik-mengetik, karena dia yang kita angkat jadi sekretaris. Mbak Avi pernah bilang dia punya cita-cita pengen mendirikan Pondok Pesantren, good luck Mbak Avi. :)



Itu semua anggota kelompok PPL_KKN 31 yang selama 3 bulan saling bertatap muka dan terpaksa harus bekerja secara bersama-sama.Kesempatan yang luar biasa bisa ditempatkan di SMA N 5 Jogja, sekolahnya bonafit, anak-anaknya cerdas dan santun, tempatnya menyenangkan(terutama kantinnya), dan warga sekolahnya pun baik-baik.
Suatu hari nanti, akan kuceritakan pada anak cucuku, tentang SMA N 5 Jogja, tentang kalian yang nama-namanya kutulis di atas, tentang kebersamaan, kejengkelan, kekonyolan yang kita bagi bersama selama 3 bulan. Terimakasih sudah pernah mewarnai hidupku dengan keberadaan kalian teman. Wish you all luck ({})

Oia, ini ada sedikit gambar waktu PPL-KKN yang pengen aku bagi. Check it out :

Ini gambar diambil waktu kita lagi persiapan buat acara Pelepasan, hari Senin 15 September 2014. Dari kiri, Panggah, Napis, Aku, Umi, Aziz, dan Barokah. Mbak Avinya jadi korban suruh motoin, hehehhe


Ini poto sehabis acara pelepasan, Kami dengan formasi Lengkap bersama Pak DPL(Dosen Pembimbing Lapangan) dan Bapak Kepsek. :)


Yang nggak kalah penting adalah sosok satu ini, Namanya Bu Mardhiyah. Beliau guru PAI SMA N 5 Jogja yang juga guru pembimbing PPL-KKn kami. Dari beliau, kami belajar banyak, tentang semangat dan kerja keras, tentang menjadi guru yang sesungguhnya. Terimakasih Ibu..:)


Satu lagi guru PAI SMA N 5 Jogja yang juga guru pembimbing kami. Beliau adalah Bapak Arif Rohman Hakim. Sosok beliau humoris dan tidak membuat sekat di antara kami. Beliau juga guru yang luar biasa. :)

Semuanya akan terkenang dalam bingkai yang indah. PPL-KKN Integratif di SMA N 5 Yogyakarta, unforgetable moment.:D

Yogyakarta, 21 September 2014

Nieda^^

Jumat, 05 September 2014

DEWASA

Usiaku sudah 21.
Di usia ini, orang memiliki berbagai versi untuk memilih jalan hidupnya. Pilihan yang akan memiliki ekor panjang dan membuat hidupnya berubah. Hey, bukankah begitu namanya hidup itu, you choose you alive. Di usia ini, mungkin ada orang yang sudah memilih lebih awal, gagal lebih awal dengan pilihannya hingga kemudian ia menemukan resep yang 'click' dengan hidup yang dijalaninya. Ada yang memilih membagi jalannya untuk dilewati bersama dengan orang yang akan menemaninya sepanjang waktu dalam hidup. Mungkin, ada yang sama sepertiku, ordinary people gitu lah bahasa gaulnya, lagi nyusun bab 3 dengan santainya, lagi nderes karena ingin segera naik panggung khataman, hm.. atau bahkan ada yang sudah melihat list beasiswa di sana-sini untuk nantinya belajar lagi dan memulai hidup baru lagi.
Pada usia ini, kadang aku merenungkan kata 'dewasa', 'adult', lalu kuhubungkan dengan kata 'arif' atau kerennya 'bijaksana'.Bahkan diusia yang berkepala 2, aku belum mengerti apa itu 'dewasa'. Nyatanya, dulu aku pernah punya pacar dengan usia berkepala 3 dan menurutku, ia harusnya 'dewasa', namun kenyatannya, ia lebih sering mengecewakanku yang telah menaruh harapan tinggi dengan mendewasakannya. Loh, malah curhat :P
Intinya, I am 21 years old, and I am confused. How to be great people?
Gimana sih biar semua orang bisa nerima aku? Gimana biar aku nggak terkesan autis?Haha Atau kadang ada pertanyan gimana biar semua orang bisa selalu tersenyum? Trus aku ngomong sama tembok dan akhirny kejedot. -___-
Jawaban sementaraku, non sence! Nggak akan ada senyum atau bahkan tawa yang serempak. Menjadi dewasa, bukan berarti jika aku bisa membuat semua warga bumi tersenyum senang, baik hati atau semua keinginan mereka terlaksana olehku.
Jika itu yang hendak kugapai, maka pepatah jawa mengatakan, "Koyo cebol nggayuh lintang". Si kurcaci yang mencoba meraih bulan. Orang baik, nggak harus SELALU ikut omongan orang kan? Karena emang semua orang punya prinsip yang kudu diperjuangin. Semua orang punya latar belakang keluarga, kultur lingkungan, dan bakat masing-masing. Jadi kalau ada orang ngomong kanan terus yang satunya ngomong kiri, gimana dong?
Jadi jadi jadiii.. pusing juga kan ngerumusin "dewasa". :P
Mulai dari membaca, memahami diri sendiri, maka kita akan tahu bagaimana alam ini membalas pesan. Tahu kan rumusan alam yang paling umum dan paling benar? Selalu ada happyness setelah sadness. Jadi, let it flow aja, dan seelalu berusaha jadi diri sendiri. Jadi diri sendiri yang tidak lupa untuk memperbaiki pribadinya.
Dulu, aku pernah ngerasa dunia ini kayak toko waktu udah malem, TUTUP. Aku ngerasa dunia ini udah bubar karena sebuah alasan yang kusebut "kehilangan". Siapa pun yang pernah mengalaminya pasti tahu gimana sakitnya, lebih maksimal dari sakit gigi, lebih dasyat dari takutnya kalo ada gempa. Bayangin aja, orang yang tiap hari sama-sama kita terus di blacklist dari bumi ini, praktis juga menghilang dari penglihatan kita. 18 tahun yang terlewati bersama alm. Bapak adalah sebuah keajaiban, and loosing him is a disaster. Yap, begitulah aku terus menangis dan membuat pengakuan kesedihan dimana-mana, facebook, twitter, entah apa lah itu. Tapi I am sure, that all is real. Setiap kesedihan adalah sama, jadi nggak ada underestimate untuk kesedihan yan dianggep lebih kecil dari ini atau yang satu lebih besar dari itu. Semua kesedihan patut diapresiasi, Hahay.
Intinya, setelah sebuah momen yang bernama "kehilangan" itu, waktu mulai mengajariku bagaimana membaca alam, membaca garis-garis langit dan bumi. Percaya atau enggak, aku bisa merasakannya, saat Tuhan menutup satu pintu maka Ia pun sedang membuka 2 atau bahkan 10 pintu yang lain, yang lebih. Jadi, aku nggak bilang kalau aku lupa pernah kehilangan Ayah di usia yang tergolong 'unyu-unyu', namun aku selalu diajak berdamai oleh waktu. Makasih waktu. :*
Inget ya, Happiness dan Sadness selalu sepaket, :)


Kalau kata seseorang, usia bukan parameter yang bisa digunakan untuk mengukur kedewasaan. Tapi bagaimana dia belajar, melihat, memahami lebih detail dan lebih peka dari orang lain. Atau bahkan merasakan sakit yang melebihi orang lain. Tuhan memberi kita arena berupa bumi ini, ayok kita sering-sering latihan, hingga nantinya kita bisa menemui-Nya dengan nilai rapor yang bisa dibanggakan dan Ia sudi meridloi kita.
:D

Rabu, 09 April 2014

Somenote,:)

Mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam (SPI) adalah salah satu makul favorit di semester 6. Karena dosennya yang amat spesial. Bapak Muqowwim, dosen motivator dengan wajah bersih dan ramah. Suatu hari di makul SPI, bapaknya memberikan intermezzo yang kebetulan juga kucatat, barangkali bisa kubagi dengan teman-teman. :)
Beliau mengatakan, ada 5 hal yang perlu diperhatikan agar seseorang bisa bahagia secara otentik, yaitu:
1. possitive emotion
2. Keterlibatan
3. relationship = hubungan.
    kita bisa bahagia bila kita terhubung dengan orang lain
4. meaning = jadi kita bisa merasa bahagia bila apa yang kita lakukan ada maknanya
5.achivement = prestasi, yaitu lebih kepada peningkatan diri

Hanya beberapa baris, tapi semoga bermanfaat.
:')


April, 10th

Senin, 07 April 2014

Someday

Beberapa hari yang lalu, selepas PPL I di Kampus, ada seorang bapak-bapak paruh baya yang terlihat berjalan kebingungan di sekitar gedung fakultasku. Beliau mendekatiku dan teman-teman yang sedang menuju parkiran.
"Mbak, Mushollanya sebelah mana ya?" tanya beliau.
Novi yang paling dekat menjawab sambil mengarahkan beliau.
"Dari sini ke kiri Pak, nanti ada Pos Satpam, deketnya itu Masjid." jawabnya.
Beliau masih terlihat kebingungan. Yah, ini bukan kejadian pertama ada orang awam yang tak mengenali Masjid Kampus yang menjulang semegah itu dan berada di muka gerbang kampus, karena Masjid tersebut berlabel "Laboratorium Keagamaan".
Bapak tadi mengangguk dengan ekspresi yang belum sepenuhnya paham. Kemudian beliau berbalik dan memulai lagi pencariannya atas masjid kampus.
Novi dan aku saling menatap, paham kalau sebenarnya Bapak tadi belum begitu mengerti arah masjid. Lalu dengan cepat kuambil motor dan menyusul bapak tadi.
"aku nganter Bapaknya dulu Pi,"
Nopi mengangguk.
Karena aku juga berencana pulang, sekalian saja kuantarkan Bapak tadi ke Masjid Kampus. Beliau menyambut ajakanku dengan senyum lega, sepertinya beliau sudah lelah mencari sedari tadi.
"Ikut acara wisuda ya Pak?" tanyaku.
"iya Mbak, ini mau shalat dulu nyari mushola"
Perbincangan kami hanya sesaat, karena Masjid Kampus tak begitu jauh, apalagi ditempuh dengan motor. Beliau melemparkan senyum dan mengucapkan terimakasih. aku pun berpamitan.
Efeknya, sepanjang perjalanan pulang aku terus melamun. Membayangkan, bukankah aku seperti seorang anak yang sedang mengantarkan ayahnya tadi,
ah,
aku ingin sekali melindungimu ayah,
menemanimu di usia senjamu,
memperlakukanmu dengan baik di setiap waktuku bersamamu,
Tapi saat kau bersamaku, aku tak bisa memperlakukanmu dengan baik,
saat kau di sampingku justru aku yang selalu merepotkanmu,
saat kau di sisiku, justru aku selalu menambah bebanmu.

Lagi-lagi aku menangis dalam diam, menangis yang aku sendiri tak menyadari kenapa.
Lagi-lagi aku membuat diriku kembali mengingatmu.

Tak apa Ayah,
aku masih akan selalu mencintaimu,
Melindungi dan membuatmu bangga,
kini hanya tersisa satu cara untuk melakukannya
Kau akan tersenyum bangga Ayah,
aku janji akan selalu jadi yang terbaik untukmu, untuk ibu.
Untuk kalian yang tak pernah lelah memberiku mentari saat duniaku gelap.
Sayang Kalian,
:)

April, 8th

Jumat, 06 Desember 2013

Jodoh, :)


Berjalan menikmati sapaan angin tiap detiknya, rasanya aku tak pernah merasa sendiri. Karena angin selalu ada dan membuatku nyaman, angin selalu menemani saat aku tak punya ruang lain untuk berbagi sentuhan kerinduan. Aku, terlalu takut sendiri, terlalu tolol untuk memulai lagi, terlalu jauh untuk kembali, dan memang seharusnya aku tak lagi kembali bukan?:)

Beberapa tahun berlalu, sejak aku mulai mencintai seseorang, mengharapkan dialah yang paling pas tangannya untuk kugenggam, paling nyaman bahunya untuk berbagi sandaran, paling mengerti, paling memahamiku, paling membuatku merasa bahagia saat duduk bersamanya, saling menatap.

Namun bukankah memang begini seharusnya hidup, berwarna, berganti-ganti, berlalu dan berubah. Iya, beginilah seharusnya kujalani hidupku, tertawa tanpa punya hal lain untuk dirisaukan, tersenyum saat tahu langit masih seindah biasa, hujan bersama rinainya masih semesra biasanya, dan kau pun di sana harus melakukan apa yang kulakukan di sini, okey?:)

Cinta,
bukan hal yang bisa kau perhitungkan,
kau paksakan,
pun kau rengekkan.
Dia egois, iya, sangat egois.
Tapi dia tulus, murni,
Tak ada yang salah dengan cinta, ia selalu indah pada awal dan tabiat aslinya.
Namun orang-orang kotor segera membuatnya menjadi kata-kata sampah yang tak bernilai.
Padahal cinta adalah kepunyaan hati, yang selalu ramai diperbincangkan dalam berbagai dekade, beragam zaman.

Untuk menemukan cintamu, cukup pejamkan matamu, katakan pada Langit untuk membisikkan rindumu pada dia, yang adalah belahan jiwamu.
Untuk kalian yang belum menemukannya, hei, coba pikirkan, bukankah ini seru? ia yang nanti akan melalui masa seumur hidupnya bersamamu, ia yang akan hidup dan mati bersamamu, bercanda denganmu, bertengkar denganmu, sekarang kalian berada di dunia yang sama, kalian memiliki atap yang sama, langit yang biru, kalian mungkin pernah dipertemukan oleh takdir. Tapi, Tuhan punya surprise yang luar biasa untuk menahan penyatuan kalian, bukankah itu luar biasa?

Jangan khawatir kawan,
Jangan lupa, jodoh adalah hadiah jangka panjang, yang super spesial.
Katakan pada jodohmu untuk juga menunggu dan memperbaiki dirinya sebagaimana kau melakukan itu semua untuknya.

Aku selalu bertanya,
kenapa pula aku harus menikah pada usia 21, 22, atau 23. Katanya, wanita tak boleh menikah di usia yang terlalu tua.
Hei, bukankah itu sangat egois?
20 Tahun Ibu dan Ayah merawat, membiayai, membahagiakan aku, membuatku menjadi manusia yang lebih humanis dengan pendidikan. Tapi lihat apa yang bakal aku perbuat, 20 tahun yang panjang, setelahnya aku harus meninggalkan Ibu sendiri, dengan judul mengabdi kepada suami. Bukankah itu sangat tak sopan? Bahkan ada yang belum menikah saja sudah sibuk dengan urusan cinta-tak mutu nya dan mengacuhkan orang tuanya. Tidak, jangan pernah melakukan hal itu Nid, paling tidak beritahu pada dunia bahwa kau akan membahagiakan Ibu, membuat hari tuanya bermakna dan temani ia selalu, selamanya.

Jadi, jodoh itu bukan hal yang perlu kau risaukan
Ini bukan nasihat, hanya perlu kita tahu saja, jangan terlalu ngotot untuk mencintai orang lain. Cinta itu lembut, tak perlu tangis sedih dan terluka jika kita tahu ia begitu membahagiakan, hanya perlu tangis bahagia dan tawa lepas saat bersama orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Semalam Ustdazku berkata, "Apa kalian tidak malu, selalu berdo'a tentang barang dunia? JODOH? Hei, dengarkan, jodoh itu adalah rizki yang sudah Allah siapkan, seseorang yang pas dengan kalian, sudah disiapkan dan kalian masih saja meminta. Malu tidak? Berdo'a untuk akhirat saja tak pernah. Dunia saja yang kalian pikirkan!"
Lalu kurasakan hatiku berdarah, terluka oleh kenyataan bahwa aku melakukan hal yang dikatakan oleh ustadzku.:(


Lalu aku,
Tak bermaksud menutup hati ini, hanya inilah duniaku, dunia anak 20 tahun yang masih merasa 15 atau 16 tahun. :P
Aku senang pernah mencintai dan amat dicintai begitu tulus oleh seseorang. Meski ia bukan suamiku, meski nyatanya kami harus dipisahkan oleh takdir, nyatanya saat mengingatnya aku hanya punya senyum dan bahagia. Semoga, kan kutemui kau yang lain nanti, saat waktunya Tuhan menunjukkan suprise besarNya padaku.

Salam Cinta,
Jatuh cintalah, 
Jatuh cintalah secara beradab, secara rasional.



Nieda Haromain.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Tuhan, bisikkan...

Tuhan,,
tolong beritahu aku, bahwa ketulusan itu masih nyata.
Tuhan,
katakan padaku bahwa setiap kejujuran itu masih nyata.
Aku,
tertatih dan jatuh berkali-kali, namun masih harus berdiri.
Ditinggalkan berdarah-darah berulang kali, tapi masih dipaksa bertahan dan menghapus sendiri semua kesakitan ini.
tidak Tuhan, aku tidak sedang merajuk, apalagi mencerca semua ini.
hanya saja, kumohon..
hanya sebuah bisikan..
bisikkan saja melalui apa pun itu,
bahwa masih wujud apa yang kusebut 'ketulusan', masih ada apa yang kuanggap 'kebersamaan'.
boehkah aku menangisinya? sebuah kehilangan, kebohongan, penghianatan, bolehkan?
atau harus kusimpan airmata ini untuk hal yang lebih berharga?
Tuhan,
terimakasih...
telah membuatku kuat
terimakasih,
telah memberikanku waktu untuk lebih tahu dan memahaminya.
:)

Sabtu, 04 Mei 2013

My Memory

_Bapak K.H. Ahmad Warsun Munawwir_

Fajar itu, kamis itu, 18 April 2013.
Gerimis sudah menemani fajar menjemput sang mentari.
Kamarku masih lengang, ada mbak luluk yang sedang makan sahur dengan nasi kucingnya. Hingga aku turut menyertainya sekitar 15 menit sebelum adzan shubuh berkumandang.
Suasana masih amat dingin ketika kuambil air wudlu dan anak-anak mulai bangun dan menuju musholla untuk jama'ah shubuh.
Setelah shalat, kusempatkan tidur sejenak karena semalaman latihan khataman membuat rasa kantuk merajai(alesan,hehe).
Sekitar pukul setengah 6, kuakhiri tidur sejenak dan beralih menyetrika beberapa baju.
Tiba-tiba ada 'koar-koar' dari pengurus di lantai 1(nb:kamarku ada di lantai 2), teriakannya singkat, "mbak-mbak...ke musbar(musholla barat) sekarang..baca yasin buat bapak(cara kami memanggil abah pondok)!!"
Di hati langsung 'jlep'. Dalam hati langsung bertanya, 'kenapa yasin?'
Kalau ada musibah sakit atau yang lain ndalem pondok sering mengumpulkan santriwati:santriwati untuk membaca shalawat thibbil qulub, muqoddaman, dan lain-lain.
Tapi pagi itu, kenapa yasin, kenapa bapak?
Langsung kutinggal setrikaanku yang baru separuh jalan, buru-buru menyomot jas pondok dan memakai jilbab secepat kilat. Saling diam, tapi kami semua punya perasaan tak enak dengan suasana pagi itu.
Di musholla barat suasana sudah mengharu biru. Santriwati berkumpul membentuk lingkaran-lingkaran beranggotakan beberapa anak dan membaca surat yasin. Aku Mbak Hanik dan Mbak Luluk mulai membaca surat yasin dengan dihadaroh sebelumnya. Yasin pertama terlewadkan dengan mata kami yang celingak-celinguk mencari kejelasan 'ada apa ini?', 'bagaimana dengan bapak?', 'kenapa seseorang di barisan depan itu menangis dalam bacaan yasinnya?'.
Saling bertanya pun tak ada guna. Kami tak berucap selain bacaan Yasin yang masih berusaha kami lantunkan dalam kebingungan.
Hingga seseorang di depan musholla yang adalah mbak nopel, mengintruksi kami untuk membaca shalawat thibbil qulub untuk kesembuham bapak.
Mulailah koor thibbil qulub menggema serempak di musholla barat. Mengalun dan berirama. Tapi ternyata shalawat koor itu hanya berjalan beberapa menit hingga mbak nopel menangis histeris dan menghentikan shalawat thibbil qulubnya membuat kami bingung tanpa kejelasan.
"ada apa mbak?" tanyaku pada mbak hanik.
mbak Han hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.
Ahh...ada apa ini?? Mbak nopel kok berhenti mimpin thibbil qulubnya, gimana sih? Kita jadi bingung nggak ada yang mimpin!
Tanpa kejelasan kulanjudkan sendiri shalawat thibbil qulubku dengan air mata yang tanpa terasa sudah mengucur deras menuruni pipiku. All is well, all is well, semua akan baik-baik saja, ucapku dalam hati dan kuuatkan bibirku yang semakin bergetar menahan suara tangis.
Mbak Indah, ketua rayonku yang memperjelas semuanya. Ia berjalan dengan langkah tergesa entah darimana menuju bagian depan musbar, meminta mikrofon dan mulai menata kata, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un.."
Pecah sudah tangisku, tangis mbak hanik, tangis mbak luluk, tangis kami semua. Ya Tuhan..sesak sekali dada ini mendengar kalimat itu.
Koor diubah menjadi tahlil, tangisan masih dominan dan menyulubungi atmosfer musbar. Kami semua, punya slide-slide di kepala yang secara reflek me'replay' kenangan kami tentang bapak.
Dua tahun, baru dua tahun aku menempati pondok ini. Ramadhan 2 tahun silam aku bertemu sosok alm.bapak, matur untuk agar bapak sudi menerimaku sebagai santriwati beliau. Beliau dengan wajah sepuhnya, menerimaku dan meridloiku untuk menjadi murid beliau. Bapak, adalah sosok humoris yang tiap mucal kitabnya mbah Yai Ali Maksum(Hujjah Ahlussunnah wal jama'ah) ngendiko "aku iki ngene-ngene iseh 'trendi' loh cah..(lalu beliau tersenyun renyah)".
Bapak adalah sosok perhatian yang saat kami meminta ijin beliau untuk pulang ke rumah, beliau akan dengan ringannya bertanya sebagai bentuk raaa sayang beliau kepada kami.
Bapak adalah sosok luar biasa yang kesehariannya masih sering berkeliling melihat-lihat area pondok. Mengamati santriwati-santriwatinya. Menanyakan ini itu yang diperlukan untuk kemaslahatan pondok.
Bapak dengan hazanah keilmuan beliau berupa Kamus Almunawwir yang membahana namun penampilan beliau sungguh bersahaja, tak berlebihan mewahnya. Sungguh rendah hati dan tak ada yang istimewa, beliau amat sederhana untuk ukuran kiai besar dan aktifis politik.
Bapak, sosok yang kami kagumi, kami sayangi, kami tunggu mauidlohnya, kami puja kehadirannya,. Bapak, sosok ayah kedua kami di sini, di bumi perantauan, di tengah lautan pencarian ilmu.

Seharian itu pondok rame oleh pelayat yang datang silih berganti. Ulama-ulama besar negeri ini banyak yang datang memberikan penghormatan terakhir untuk beliau. Lantunan ayat suci menggema dengan merdu, dilantunkan bilhifdzi oleh para santri. Sedang kami santriwati berkumpul di musholla untuk membaca ar ra'du dan surat yasin.
Pagi hingga sore langit masih saja sendu, merintikkan gerimis tanda bela sungkawanya atas kepulangan Kiai kami ke Rahmatullah.
Sekitar pukul 4 sore keranda yang membawa jenazah bapak digotong banyak santri dan masyarakat ke pemakaman dongkelan. Bapak disareake bersebelahan dengan para sesepuh Al Munawwir yang lain.

Selamat jalan Syaikhona,
Menatap pondok semegah ini, santriwati-santriwati yang membeludak dengan penuh kecintaannya kepada beliau.
Menatap kamus beliau,
membuat kecintaan kami kepada beliau semakin membumbung.
Kau meninggalkan kami dengan pencapaian luar biasa, Bapak.
Kau pergi dengan segudang jerih perjuangan atas nama agama duhai guru.
Engkau beriatirahat setelah lelah yang panjang dengan seluruh perjuangan yang tak sedikit tak pula sebentar.
Duhai guru,
selamat beristirahat.
selamat menikmati jamuan indah di alam yang lebih kekal.
semoga estafet keilmuan ini terus berpendar dan tak luruh oleh waktu.
Kami sayang bapak.


PP. Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta.
Jumat, 19 April 2013.

Minggu, 31 Maret 2013

Puisi

 Langit Malamku
By : Nieda Haromain


Derai air mataku malam ini, cukupkah untuk menjagamu?
Masihkah hadir  sebuah kebersamaan yang kusuka dulu
Aku tak tahu mengapa harus kujalani bersamamu, hanya sebuah kenyamanan lah jawaban langit.
Dan dia serta mereka menarikku paksa dan melenyapkanmu kasar
Aku hanya mencoba berjalan dalam kesendirian
Hancur tak mengapa
berkeping pun aku pernah melaluinya,
yang terparah sekali pun pernah kujalani.
Hanya dustaku untuk mengingkarimu lah yang menyesakkan
Hanya sakit yang kubagi bersamamu ini lah yang kusesali
Selamat malam gelap langit
Jangan temani aku,
temani saja rembulan menghabiskan masanya
Aku tak lagi mampu menemui dalam lelap mimpiku,
Aku teramat menginginimu hingga harus melakukan ini semua,
maaf langit malamku
aku tak mampu untuk tak menyayangimu
aku teramat menyedihkan dengan rasa bodoh ini,
tapi ini cukup, 
untuk membuatku yakin bahwa cinta tak selamanya harus menemui hulunya
bahwa cinta hanya sebuah perasaan,
ia hanya rasa yang perlu kutahu indah dan manisnya
sedang duka,
ia bukan cinta
ia hanya cinta yang tak menemu hilirnnya
:)

Jumat, 01 Februari 2013

_My Short Story_

 SEPASANG RASA
By : Nieda Haromain



Ini hanya tentang sebuah pengakuan yang tak kunjung reda. Malam yang sunyi hanya sebuah kiasan tanpa batas, tempat di mana aku tak pernah mempercayai sebuah kata. Malam, selalu mengatakan padaku bahwa aku akan baik-baik saja hingga pagi menjelang. Namun anehnya dia benar, aku selalu baik, lebih dari baik-baik saja setiap kali matahari memeluk tubuh bumi dari jarak yang begitu jauh.
Angin, laut, aku tak pernah menghitung berapa kali sudah aku mencumbu mereka, aku melakukannya selalu setiap saat, namun aku tak pernah mendapat jawaban apa pun. Semua pertanyaan ini masih sama, masih ada dan mungkin akan selalu begitu.

"Jangan pernah berhenti. Jangan berhenti demi aku, kau mengerti?"

Kata-katamu, yang terakhir sebelum pesawat itu lepas landas meninggalkan aku yang hampir hancur. Aku selalu berharap pesawat yang membawamu menuju samudera nan jauh itu meledak tepat di depan mataku, lalu aku akan benar-benar kehilanganmu. kemudian aku akan mulai menangis, membuat seolah-olah aku pun akan mati esok hari, lalu ada orang lain yang datang di hidupku dan mengatakan padaku untuk tetap hidup demi dia. Dengan begitu aku hanya akan kehilanganmu secara nyata, selamanya.

Namun yang seperti ini, belum mampu kuatasi. Kau terus berputar-putar di fikiranku tiap detik. Aku yang begitu bodoh membuat ini semua amat sulit untuk dilalui. Bagaimana mungkin aku mengatakan aku akan menerima tangan orang lain jika tanganmu masih kurasakan hangat melingkari bahuku, meski nyatanya kau dan hangat tanganmu tak akan pernah lagi ada untukku.

"Hey, kau dengar! Hari ini adalah 7 hari sebelum aku menikahi laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Kau dengar, dia lebih baik! Seribu kali lebih baik!!...

tak mampu kutahan tangis yang menyesaki lingkar mataku. Dan tetes demi tetes air mata itu pun mulus meluncur di pipiku. Aku masih menatap wajahnya nanar, dalam bingkai yang indah itu. Gambar yang kuambil 5 tahun lalu bersamanya. Bahkan senyum yang ada di sana masih saja membuatku berdesir saat menatap dan meikmatinya.

"Dia lebih baik darimu! Iya, siapa pun tahu itu! Tapi kenapa aku belum mampu membuatnya memasuki hatiku...kenapa hanya wajahmu yang selalu menyesaki hariku! Apa yang kau lakukan padaku! Kenapa takdir begitu keterlaluan menyiksaku!!"

Kurasa ini sudah agak keterlaluan karena ibuku sudah mulai mengetuk pintu kamarku, mengingatkanku untuk tak lagi menangisimu. Aku akan menikah, dengan lelaki yang baik, pilihan Ibuku tentu saja. 5 tahun sudah, dan aku masih sama bekunya dengan terakhir saat kau kecup keningku di tempat itu. Kau, sudah pernah mengatakannya, bahwa kau akan kembali, namun aku hanyalah aku dan kau memang tak akan ada dalam kehidupan dimana aku diciptakan. Kau hanyalah fatamorgana yang datang dan pergi sesukamu.

"Maaf."ucapku formal.

Lelaki itu tersenyum begitu tulus, membuatku memicingkan mata. Aku begitu penasaran, sebenarnya apa yang ia rasakan. Apa dia baik-baik saja, apa dia waras dengan membuat pilihan akan menikahi gadis sepertiku, kosong, tak ada lagi hati yang tersisa.

"Aku tidak melakukan apa pun yang membuatmu harus mengembalikan hal tersebut padaku. Aku hanya...
 Sesaat ia melepasakan pandangannya dariku dan menatap luas langit yang begitu indah pagi itu, 3 hari, tepat sebelum aku akan resmi menjadi istrinya.
''aku hanya mencintaimu. Cinta bukan tentang balas budi yang bisa kau kembalikan sehingga kau tak lagi mempunyai hutang padaku. Aku mencintaimu Nai, bukan memberikanmu hutang apa pun. Dou you understand?" Ucapnya panjang lebar.

"Karena itulah aku meminta maaf."ucapku datar. Tak mampu menatap matanya.

Namun ia hanya tersenyum, seperti biasa saat aku tak lagi mampu mengeluarkan kata lain selain permintaan maaf.

"menikahlah denganku, Naila.."ia kembali angkat bicara, kali ini ia membuat tanganku berada dalam genggamannya.
"bukankah aku akan menikah denganmu 3 hari lagi?"tanyaku, seraya menjawab pernyataannya.
"iya, sepertinya aku memang akan menikahimu."ia kembali tersenyum, senyum yang sebenarnya lebih terdengar menyakitkan.


Salah siapa semua ini, jika hati memang tak memiliki kapasitas untuk mencintai lebih dari satu orang saja. Aku sudah pernah mencintai seseorang, amat dalam dan tak memiliki ruang untuk lari dari cinta yang menyakitkan itu. Lalu aku tak lagi mampu memberikan hatiku untuk orang lain.

Dan Tuhan punya rencana, baiklah akan kulakukan apa yang menjadi bagianku sebagai takdir. Hari di mana aku menjadi memperlai wanita laki-laki itu, hari itu aku hanyalah seorang pengantin, hari itu hanya akan terjadi kepemilikan diriku atasnya. Laki-laki yang aku tahu, ia begitu baik hingga aku tak tahu mengapa aku tak mampu membuka hatiku untuknya.
"Tersenyumlah, sehingga seolah aku benar-benar menikahimu..."Ucapnya dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
Demi menatap mata hangatnya, aku menarik sudut-sudut bibirku hingga menyunggingkan senyum. 
Hey kau! apa kau tahu, aku menikahinya, laki-laki yang seribu kali lebih baik darimu! Aku bisa berbuat sepertimu, menikah dengan orang lain seolah tak pernah ada apa pun di antara kita. Hari ini kita satu sama, kau dan wanitamu, lalu aku bersama suamiku.
Lalu, apakah ini jodoh? Inikah jodoh? Kau dan dia? Aku dan lelaki ini? Beginikah seharusnya?


*to be continued*

Selasa, 13 November 2012

My Dady


_Surat Untuk Ayah_
Oleh :Nieda Harmain



Ayah.
Semenjak kepergianmu aku tidak pernah merasa pantas untuk mendapat kasih sayang. Kupikir sudahlah, 
aku hanya jiwa dengan kekosongan separuh haluannya yg separuhnya lagi telah menguap bersama dengan kepergianmu. 
Aku tahu ayah, merelakan setiap masa-masa kehilanganmu adalah keharusan bagiku.
Tapi kau tak pernah tahu beratnya hari-hari yg harus kujalani untuk memulai merelakanmu ayah... 
Kau tak pernah tahu. 
Ayah, di sini tak sehangat pelukanmu. Di sini dingin. Hatiku pun harus menahan perih oleh dinginnya musim di sini. Iya. Aku memang tak pernah merasa pantas untuk memperoleh yg lebih dari ini. Kau harusnya tahu ayah, harusnya kau ada di sini. Memberiku semangat. Menghangatkan segala dingin yg mengepungku. 
Ayah, 
aku tak pernah membuat pilihan tentang takdir bukan? Aku hanya menjalani hari sebagaimana janjiku, bahwa aku akan bertahan dengan sisa energi yg Tuhan titipkan. Kadang aku ingin merengek, tentang takdir. Tentang rasa iri, tentang rasa angkuh. Ayah. Kering sudah air mata tolol ini. Menangisi masa terdahulu, nyatanya tak membuatku lebih baik. Ayah, aku merindukanmu. Aku merinduimu di tengah krisis kasih yg kualami. Hanya Tuhan, tempatku bernaung. Berteduh di tengah hujan lara yg menggumul di setiap kesunyian hati. Tapi rindu ini. Semakin menyesakiku ayah. Sakit sekali. Ayah. Mimpiku adalah kau. Tidurpun tak mampu membuatku melepas sakit ini.


Adik,
di bumi kita dulu. :)

Rabu, 17 Oktober 2012

CERPEN-ku


Ini adalah cerpen kedua yang dipaksa untuk tuntas karena cerpen ini pesanan seseorang. kisah ini milik seorang teman. bahasanya mungkin masih sangat kaku, namanya juga latihan..:P. but, pefrect is start by practice. selamat menikmati. :)

“Kita, dan Simponi Takdir”
By : Nieda Haromain

Kalau bukan karena sayang, mengapa ikatan ini masih saja ada. Lalu apa nama ikatan aneh ini kalau bukan sayang, atau mungkin orang akan dengan terbiasa menyebut semua siklus ini dengan nama “cinta”. Jika bukan atas nama rasa, bagaimana mungkin terwujud sepotong hati yang saling terkait. Cinta, selalu saja sama di setiap kisah klasik belahan dunia mana pun. Bahagia, derita, adalah dua hal yang berjalan seiring seirama dengannya.
                Bukankah seharusnya majas menjadi kemasan lazim dalam seminar apa pun yang terkait degan cinta? Majas yang selalu kurapal dalam diriku, tentang adalah bagaimana aku menatap indahnya langit tiap detiknya. Aku menatap langit, lalu aku menatap dirimu di seluruh atapku. Jika langit adalah tempat bergantungnya awan, maka yakinku kau adalah langit tempat kugantungkan semua rasa yang terlanjur terpatri di seluruhku. Lalu kesukaanku yang kedua, laut. Jika laut adalah wadah di mana seluruh air akan tertempa, maka bagi diri ini kaulah tempat di mana seluruh cintaku berlabuh dengan pasrah.
                Candamu, tulus, serta wujudmu, adalah paket mukjizat yang aku tak perlu menjadi Nabi untuk mendapatkannya. Katamu, jalani saja setiap langkah, jika jalan kita telah habis, jika hanya lumpur kotor yang memenuhi jalan setapak kebersamaan kita, mungkin pula ribuan keping darah akan terlerai dari kisah yang tak mudah ini. Yang perlu kau tahu, sayangku bahwa perasaan yang ada ini bukan sekedar, tapi segalanya.
                Hari itu ulang tahunku, sengaja kau bungkuskan novel mungil yang kini masih menjadi salah satu koleksiku. Cukup senyum simpul, memenuhi wajahku. Aku tahu, kau selalu, selalu ingin membuat hari bahagiaku lebih bermakna.
“Makasih Mamas sayang..” kukecup mesra ujung novel itu sebagai perwakilan atas kecupku untukmu.
“Apapun, akan mamas lakukan untuk Nok Naila Nabila yang pualing cantik.”
“Iya dong, kudu, wajib, harus itu mas!”
“tahu nggak kenapa mas kasih novel itu ke kamu?”
“Paling kehabisan ide. Iya kan?” godaku.
                Muka tembem itu sedikit bergeming, lalu kau kembali tersenyum seperti seharusnya. Sebenarnya, senang sekali bisa melihat dan memiliki senyum manis itu.
“Alasan sebenarnya adalah..
                Tangan gempalnya membuka novel yang sebelumnya kupegang. Halaman tertentu, dibukanya lebar dan dibuatnya aku membaca. Sebuah kalimat yang berbunyi “kehilanganmu adalah kematian bagiku”.
“Mas rasa, ini cukup mewakili perasaan mas ke kamu.”
                Senyumku kembali mengembang. Harusnya kau mampu membaca arti senyum simpul ini, harusnya kau tahu betapa bahagianya aku.
                Bagiku, kau selayaknya nikotin, yang meracuni setiap rongga hatiku dengan segala rasamu. Tulus, murni, dan sesak semua itu berjubel dalam hidupku. Hingga aku terbaring lemah dan mengamini setiap alur prosa dari bumi cinta yang di sanalah kau dan aku melabuhkan tautan, bahkan kepingan harapan.
                Sayang, bukankah pernah kukatakan padamu, aku “cinta”, tapi batas tertentu memotong rasa sayangku. Yang awalnya aneh dan tak tentu, saat rasamu masih untuk orang lain begitu pun aku. Namun kemudian waktu dengan baiknya membisikkan nada terbiasa. Aku terbiasa denganmu maka aku mencintaimu. Aku tersihir oleh setiap sudut kemasan humormu, ekspresimu saat kau merajuk, wajah “baby face”mu saat kau terlelap. Semuanya menggelayut merajuk untuk tak ingin enyah dari pikirku.
“So, sudah berap lama kita seperti ini?” tanyaku, sengaja sekali ingin memancing jawaban skeptismu.
“Nok ingat, seharusnya ini sudah 1 tahun sejak pertama kita bertemu. Dan masing-masing dari kita saat ini masih terikat oleh komitmen lain, lantas...”
                Suaramu seperti seseorang dari entah pedesaan mana, yang menelfon kerabatnya yang tinggal jauh di tengah hiruk pikuk kota. Lantas sinyal yang ada di pedesaan pun menghilang, lenyap. Suaramu seolah tak ingin berhenti, namun tak mampu menemukan kata untuk kau susun dengan rapi. Lalu yang kulakukan, hanya menunggumu melanjutkan kata, jika memang ada, seharusnya kau katakan saja padaku. Bagaimana agar kita tak harus menyakiti orang-orang yang sama-sama telah mengikat hati dengan masing-masing dari kita sebelum pertemuan rumit ini.
                Lalu kau pegang lembut jemari tanganku di tengah pertemuan kita yang ke sekian. Saat itu, kau adalah kakak, sahabat, dan segala apa yang aku butuhkan. Aku tahu, ada sebagian jiwaku yang telah menepi di teluk asa, yang baru saja hadir bersamaan dengan kehadiranmu di hidupku.
“Kita jalani saja Nok, Mamas sayang Abing, begitu pun Mamas tahu, bagaimana perasaan Abing ke mamas.”
                Kurekatkan pelukan sayangku tanda persetujuanku atas janji tanpa saksi itu. Yah, inilah jalan yang mungkin kita pilih hingga tak harus ada kata berpisah atau pun menyakiti.
***
                Sejak saat yang samar kuingat itu, hari-hari mendayu penuh harum mawar yang adalah isyarat akan nada cinta yang kau hembuskan. Kita sama-sama menyadari dua hal urgent dalam samudra suci ini. Pertama, kau mencintaku. Begitu pun aku, entah seberapa banyak prosentase cinta kita masing-masing, hanya waktu yang mempunyai daftar jawabannya. Kedua, ada yang salah dengan cinta di musim dingin ini. Hujan, angin, bahkan badai yang selalu siap menghabisi ikatan kita menggangguku dengan bermacam mimpi buruk yang hingga kini tak kunjung reda. Kau dan aku, tak dilahirkan dalam sekte yang sama. Itulah mengapa, aku takut kehilangan cintamu.
                Dan hari itu, takdir seolah mendengar sudut ketakutan dalam hatiku. Dia mendengar dan datang membawa rasa takutku pada kenyataan yang harus kita lalui. Adalah Mamiku, yang menjadi tangan takdir, menjelma menjadi orang yang menggugah kata “perpisahan” dalam irama kita.
“Sejak kapan kalian jadian?” tanya Mami dingin, dengan raut wajahnya yang tak sedang bercanda.
“enggak Mam, nggak pernah terjadi apa-apa antara Abing dan Mas Sulaiman.” Jawabku lirih.
                Terbongkar sudah semuanya tanpa sedikit pun ada tirai yang mampu menjadi perisai bagi kau dan aku. Mamiku tak akan pernah membolehkan putr putrinya menjalin hubungan spesial dengan orang yang tak ada dalam listnya. Dan entah apa pasalnya, Abah pun mengamini ingin mami. Namun Abah yang kupuja itu lebih banyak diam, beliau senada dengan Mami dalam pemikiran, namun cara beliau menghardik tidak sama.
                Setelah semuanya terbongkar, masih sangat jelas teringat olehku kau datang dan berlutut di kaki Abahku, karena di luar hubungan kita kau sesungguhnya adalah orang kepercayaan beliau, kau adalah tangan kanan beliau. Mamas, bahkan air matamu menganak sungai di kaki Abah. Lirih kuserap kata-katamu yang begitu takut, takdzim, dan menyesali segalanya. Bersama satir tipis itu, aku menatap perih dirimu yang diusap-usap punggungmu oleh Abahku. Abah memaafkamu hari itu. Mungkin karena kau terlalu berharga untuknya. Namun sorot matanya jelas, mengingatkan dengan tajam, dan berkata,
“Jangan lagi dekati Nabila!!”
                Suara mata yang tak pernah terucap itu mendarah daging dalam pikirmu, tapi tidak dengan hatimu. Sembilu menghujam kala itu, memaksa kita berhenti sejenak enth hingga kapan. Kau dan aku, dipaksa untuk memilih perpisahan dengan air mata sebagai simbolnya. Tanpa kata, tapa perpisahan, kita mengakhiri begitu saja semuanya, dalam diam.
“Aku sayang mamas, entah seberapa dominan rasa ini mengaduk-aduk hatiku. Tapi untuk berpisah, kurasa ini terlalu egois bagi takdir!” ucapku lirih tanpa pernah kau dengar.
***
                Tahukah kau, sejak semua huru-hara percintaan itu terjadi, tak semalam pun kuhabiskan tanpa tangis. Menangis menjadi kebiasaan baruku sejak penghapus Tuhan menghapusmu dari dari hidupku. Aku kehilangan semua humormu, gelak tawa renyah yang kau perdengarkan padaku setiap waktu, aku rindu.
                Lalu melalui angin, kabar darimu pun terdengar olehku. Tubuh gempalmu termakan oleh hati yang terlukai. Kau menghabiskan kesakita yang maha melebihi apa yang kulalui. Dua kehampaan yang sama besarnya, dengan dua plot yang berbeda.
“Kangen sama Bang Sule Bing?” tanya temanku santai.
“Sedikit.” Jawabku sekenanya. Yah, aku tak pernah bisa serius mengungkapkan rasa cintaku kepada setiap orang, cukup aku saja yang tahu betapa dalam cintaku padamu.
“Mau nitip salam nggak?” tawarnya.
                Sedikit berbinar mata ini setelah sekian lama hanya air mata yang nampak di sana.
“Boleh” jawabku, berusaha menutupi jutaan bom bahagia yang siap untuk meledak.
                Setelah salam menyalam lewat pos dadakan yang dengan baik hati mau menyampaikan salamku padamu dan sebaliknya, akhirnya kau dan aku kembali terhubung. Ah, seharusnya mudah saja bagi kita melewati segala cobaan cinta, asal itu tak melibatkan orang tua. Sekarang, kita hanya mampu diam-diam atau berbisik sekuat sisa tenaga yang ada, saling menggumamkan perasaan masing-masing. Mungkin selayaknya dedaunan yang saling bergesekan, saling menari dan merasa bahagia sekalipun ia mempunyai kemungkinan untuk terjerembab jatuh karena gesekan itu.
                Mengumpulkan yang terserak di antara puing-puing yang lalu duhai sayang, itulah perkerjaan kita saat ini. Membenahi lara di hati masing-masing. Aku, kau, dan takdir, bersinergi menjadi pusaran magnet. Kau tak ingin jauh dariku, begitu pun aku, dan kita, tak boleh memarahi takdir, agar dia menjadi penyelamat kita.
“Jangan lagi membuat mamas merasakan kehilangan seperti itu Nok.” Lembut kalimat itu mengguyur gersang rerumputan yang lama tak kau raba, tak tersentuh olehmu.
“Tidak akan pernah mamas sayang.” Kalimat manjaku selalu saja hanya kuhadiahkan untukmu.
                Jika aku boleh bermohon pada takdir, aku akan membuat berbagai macam penawaran. Apapun akan kugadaikan, jika mungkin boleh kupilih sendiri jalan jodohku. Jalan takdir, biarlah seperti ingin Tuhan, biarlah cukup waktu yang menchecklist semua harapan, atau menghapus sebagian kekecewaan. Yang kutahu, cintaku indah bersamamu. Yang kumau, selamanya adalah ukuran yang pantas bagi kebersamaan ini. Entah tiga, atau lima tahun yang akan datang apa yang akan terjadi, biarlah tetap jadi rahasia Tuhan hingga waktu itu datang. Yang perlu kau tahu, jangan lagi membuat pilihan untuk berpisah. Yakinlah, cinta kita kuat. Jika waktu itu tiba, datanglah, jemputlah aku, dan katakan pada Abah dan Mamiku bahwa kau telah pantas untuk mendampingiku.

Suatu hari aku menatap langit
Dan kau adalah ingatan kedua setelah indahnya,
Suatu hari aku memandang laut,
Dan kau ada dalam ombak indah yang mencumbunya,
Kau,
Adalah segalanya,
Yang membuatku percaya,
Bahwa cinta itu ada,
Kau,
Satu orang yang hanya denganmu aku bersandar tanpa merasa perlu untuk resah,
Kaulah,
Hidupku.
;-*

PUISI_ku

Ini untukmu, yang pernah tinggal di hatiku. untukmu yang pernah menghabiskan petang yang indah di nol KM Jogja bersamaku. aku rindu pada kisah kita.



LANGIT
By: Nieda Haromain

Sudah berapa kali kucoba, mengusirmu dari pikiranku dengan pertahananku yg sangat rapuh.
Sudah berapa ranting kucoba patahkan, saat daunnya terserap oleh cahaya mentarimu.
Entah,
Entah sudah berapa kali kubaca percakapan terakhir kita.
Pesan-pesanmu yang tertata rapi,
kata-katamu yang serupawan hatimu,
yang semua itu, hanya semakin menyakitiku.
Yang semuanya hanya menambah luka baru di rongga dadaku.
Sesak,
rasaku hanya sesal yang menggantung tanpa pernah berlabuh.
Dudaku adalah saat aku membiarkan setiap ingatku menjelajahi duniaku saat kau meracuninya dengan rasa tulusmu.
Bintang,
mawar,
kata-katamu,
semua berbaring pasrah di atas puing-puing luka yang justru tak akan usai.
Duhai langit,
Mengapa aku harus jatuh sedalam ini?
Mengapa aku tak memberi sekat dengan lautan 'rasa' sehingga harus basah olehnya.
Duhai langit,
Bahkan angin pun membisikkan namanya.
'kebaikan'nya...
Ia yang akan 'menepati janji'nya.
Langit, kumohon beri aku jawabmu...
Terlalu pening kutanggung ini semua sendiri.
Mimpi-mimpiku membuatku lemah hingga aku takut terlelap.
Dan tak sampai di situ takdir menjadikanku boneka,
bahkan saat mataku memerah menahan lelap,
aku hanya bisa menangisi kebodohanku.
Bahkan laut lepas yang kupandang kala itu, membuatku marah pada langit.
Mengapa,
Mengapa harus sedalam ini?
Mengapa langit?
Waktu,
hanya itu jawaban langit atas tanyaku yg sesak menyelimuti atmosfer.
Waktu katanya,
Yang akan menjagaku.
Ia akan membantuku.
Yah,
Setidaknya ada satu kata yang bisa menghiburku.
Terimakasih langit.
:')